5 Alasan Kenapa Kamu Harus Mahir Berkendara

naik-motor

Ingatan saat pertama kali belajar mengendarai motor masih begitu jelas. Saat itu, lapangan sepak bola yang berada di samping rumah menjadi tempat saya mengadu keberuntungan. Atta duduk di belakang kemudi motor, memastikan anak perempuannya tidak menabrak pagar rumah tetangga atau kandang sapi yang berada di seberang lapangan. Bukan apanya, ia pasti tak mau motor satu-satunya itu lecet. Saat itu cicilannya masih belum lunas.

Awalnya semua berjalan lancar. Mengendarai motor di lapangan sepak bola bukan hal yang sulit. Meski kaku, saya berhasil membawa motor tanpa ditemani Atta. Berkeliling lapangan dan mulai menikmati sensasi mengendarai benda seberat hampir 100 kilogram ternyata membuat candu. Beberapa hari berikutnya, saya mencoba mengendarai motor seorang diri. Menarik gas dengan agresif membuat motor terbang dan menabrak pot bunga yang berada di depan rumah. Ibu yang menyaksikan saya dari atas rumah panggung berteriak histeris, tergesa turun dan melihat kondisi anak gadisnya. Atta marah, Ibu juga. Bedanya adalah Atta memarahi saya dan beliau dimarahi balik oleh Ibu karena memarahi saya.

Melalui banyak kali jatuh bangun belajar mengendarai motor tidak sia-sia. Slogan ‘di mana ada kemauan di situ ada jalan’ benar adanya. Saya berhasil memperoleh SIM C tanpa tes beberapa tahun kemudian, menyicil motor beberapa tahun berikutnya dan lunas beberapa tahun lalu. Kalau dulu saya menyerah dan jadi trauma saat jatuh dari motor, mungkin sekarang saya masih jadi penumpang setia pete’ pete’ atau gojek.

Keputusan untuk bisa berkendara tidak pernah saya sesali. Terutama di tahun-tahun akhir kuliah yang membutuhkan mobilitas tinggi. Jika masih ragu untuk belajar berkendara sendiri, mungkin alasan berikut bisa menguatkan kamu 😉

Kamu Mandiri

Saya punya kakak perempuan dan adik perempuan yang tidak bisa mengendarai motor. Keduanya punya banyak alasan tidak mahir berkendara. Ada yang tidak bisa bersepeda, ada yang beralasan gampang panik ada juga yang menyalahkan saya karena tidak mengajarinya naik motor. Dari semua alasan tersebut, saya cuma mengambil kesimpulan bahwa mereka yang ingin bisa mengendarai motor harus bersungguh-sungguh ingin bisa naik motor, no excuse!

Padahal jika serius, berkendara bisa membuat kita jauh lebih mandiri. Manfaat tersebut saya rasakan ketika harus mengunjungi berbagai tempat tanpa harus mengemis pada adik laki-laki agar mau mengantar.

Kamu bermanfaat

Berbelanja ke pasar adalah salah satu rutinitas saya sejak mahir berkendara. Menjadi satu-satunya anak perempuan yang bisa berkendara menjadikan saya harus siap siaga jika dibutuhkan. Berbelanja di pasar, membeli gas, menjadi ojek keluarga, semuanya sudah saya jalani. Jika kamu pernah mengalami hal serupa karena menjadi satu-satunya yang bisa berkendara, saya ucapkan selamat! Meski kadang melelahkan, yakinlah hal ini akan kamu rindukan saat suatu saat nanti kesibukan menjauhkan kamu dari keluarga.

Pete-pete mahal

Di Kota Makassar, kendaraan umum yang familiar adalah pete’-pete’. Ongkos mengendarai benda ini jauh dekat adalah 4500. Belum lagi jika tempat tinggal jauh dari akses angkot, maka berkendara sendiri bisa menjadi solusi.

Kamu Orang Sibuk

Jika kamu orang yang punya banyak aktivitas, bisa berkendara sudah menjadi keharusan. Bayangkan berapa ongkos yang harus kamu keluarkan jika harus menghadiri beberapa acara dalam satu hari. Ditambah lagi waktu yang kamu habiskan di atas kendaraan umum mengomel pada supir yang mengetem terlalu lama.

Kamu Jomblo

Alasan ini mungkin terdengar lucu, tapi benar adanya. Di masa kuliah dulu, teman-teman yang punya gebetan biasanya akan memanfaatkan laki-laki sebagai tukang ojek atau antar jemput. Sendiri tentu saja menjadi alasan yang kuat kamu harus bertekad bisa berkendara.

Tulisan diikutkan dalam #Tantangan5 #KMKepo.

7 Comment

  1. Pete-pete sekarang sudah lima ribu rupiah.
    Saya juga dulu pengguna pete-pete, meski dengan isi dompet yang tak banyak. Selalu saja ada uang tuk naik pete-pete. Selain itu, saya punya waktu berolahraga, karena butuh jalan kai tuk bisa sampai jalan raa yang jadi akses pete-pete.

    1. arifayani says: Reply

      hihihi, ketahuan kalau sudah lama sy tidak naik pete2.

  2. Slime says: Reply

    Wah, baru tau pete-pete jarak deket aja 4500. Nanti bisa dipastikan 5000 rupiah dong ya kak.. 🙁

    1. arifayani says: Reply

      Heheh, iya kak. Kalau ketemu sopir pete pete yang baik, kalau jaraknya dekat biasanya dia cuma ngambil 2 ribu ^^

  3. jadi alasan terakhir itu masih valid sampai sekarang?

    1. arifayani says: Reply

      Hahahah, like that lah Daeng 😀

  4. 5 alasan itu semua gue banget, tapi sampai sekarang masih takut mengendarai motor, sampai-sampai gak bisa perpanjang SIM yang belum sempat dipakai 🙁

Leave a Reply