Ancaman Itu Bernama Pneumonia

Mendengar kata pneumonia, yang pertama kali muncul di kepala saya adalah nama salah satu rumah sakit di Makassar yang bunyinya hampir mirip, Pelamonia. Orang-orang berkunjung ke Rumah Sakit Pelamonia karena menaruh harapan akan kesembuhan, atau untuk memberi doa pada kawan atau kerabat yang sedang berbaring. Sedangkan kata pneumonia memberi ketakutan, sekaligus bayang-bayang akan kematian.

Kata penumonia sendiri berasal dari bahasa latin pneumōn yang artinya ‘paru-paru’. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan paru-paru basah, penyakit dimana kantong udara atau alveoli pada paru-paru meradang dan dipenuhi oleh cairan atau nanah. Penyakit ini pula yang sering diasosiasikan dengan pengendara motor. “Kalau naik motor jangan lupa pakai jaket supaya tidak kena angin. Nanti ko kena paru-paru basah” begitu kalimat yang acap kali kudengar dari keluarga.

Kenyataannya, pneumonia bukan disebabkan oleh angin malam. Lebih tepatnya disebabkan oleh kuman, bakteri, virus atau jamur yang memang rentan berkembang di udara yang lembab. Mitos lain seputar pneumonia yaitu tidur di lantai, memakai kipas angin saat tidur atau menyalakan AC pada malam hari. Aktifitas yang mungkin familiar dilakukan sehari-hari.

Jangan Anggap Remeh

Menurut tulisan yang dimuat di situs admedica.co.id, gejala dan tanda pneumonia tergantung jenis kuman penyebabnya, usia, status imunologis, dan beratnya penyakit. Gejala-gejalanya meliputi demam, menggigil, sefalgia, gelisah, muntah, kembung, diare (terjadi pada pasien dengan gangguan gastrointestinal) dll.

Ada beberapa nama pesohor yang pernah didiagnosis pneumonia seperti Hillary Clinton pada pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2016. Ada pula nama pelatih klub bola Juventus, Maurizio Sarri yang baru-baru ini diberitakan menderita pneumonia. Pada kasus berat, pneumonia bisa menyebabkan kematian pada orang dewasa seperti yang terjadi pada pencipta komik marvel, Stan Lee.

Prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala menurut provinsi

Di Indonesia sendiri, fakta dan data tentang penumonia membuat saya tercengang. Ada begitu banyak prevalensi kasus berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala yang terjadi di Indonesia. Data tersebut memperlihatkan bahwa prevalensi paling tinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, diikuti oleh Provinsi Papua. (data riskesdas 2018)

Fakta bahwa penumonia rentan diderita oleh anak-anak khususnya usia balita membuat peyakit ini harus banyak mendapatkan perhatian. Menurut data dari Save the Children, penumonia adalah penyebab kematian anak nomor 1 di dunia yang membunuh 1 juta anak setiap tahunnya. Jika tidak dicegah, penyakit ini akan membunuh 11 juta anak di tahun 2030.

Data lain dari Save the Children menyebutkan bahwa setengah dari kematian anak akibat pneumonia berkaitan dengan polusi udara. Membaca fakta ini tiba-tiba mengingatkan saya tentang bencana kebakaran hutan yang menimpa beberapa daerah di Indonesia yang tentu saja meningkatkan potensi anak terkena penyakit pneumonia. Jangan lupa, ada pula peran asap rokok dan polusi udara lainnya.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan yaitu melindungi (protect), mencegah (prevent) dan menangani (treat).

Untuk balita, pemberian ASI eksklusif adalah salah satu bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan. ASI eksklusif diberikan hingga bayi berusia lebih dari 6 bulan dan diiringi dengan asupan makanan serta gizi yang seimbang.

Di ranah pencegahan, imunisasi dasar lengkap memberikan peran penting dalam mencegah berbagai macam penyakit dan meningkatkan imunitas anak. Kegiatan seperti mencuci tangan pakai sabun juga bisa menjadi salah satu upaya pencegahan.

Jangan lupa jika memperhatikan sanitasi dan mengurangi polusi di rumah memegang peranan penting dalam kesehatan keluarga utamanya mencegah pneumonia. Di rumah-rumah tradisional seperti yang ada di Sumba, aktifitas memasak di dalam rumah menggunakan kayu bakar tanpa ventilasi yang memadai membuat anak-anak dan anggota keluarga menghirup udara yang tidak sehat. Tidak heran jika prevalensi penyakit inveksi saluran pernapasan akut mencapai 61% di Kabupaten Sumba Tengah. (source)

Pada fase penanganan sangat dibutuhkan pembagian peran orang tua yang saling melengkapi khususnya dalam proses mencari informasi hingga membuat keputusan (yang berhubungan dengan kesehatan). Diperlukan pula penanganan kesehatan yang terintegrasi di setiap fasilitas kesehatan. Dengan demikian, kasus seperti pneumonia bisa memperoleh penanganan yang cepat dan tepat.

Dalam publikasi Save the Children berjudul Childhood Penumonia Communication Strategy, diperkenalkan key messages atau pesan-pesan kunci yang disingkat STOP, yang merupakan singkatan dari:

  • Air Susu ibu saja cukup hingga bayi 6 bulan, berikan makanan tambahan setelah anak lewat dari 6 bulan dan lanjutkan ASI hingga 2 tahun
  • Tuntaskan pemberian imunisasi balita, cegah terjangkit pneumonia
  • Observasi anak sakit, jika alami sesak napas segera periksa ke puskesmas/dokter
  • Pastikan kecukupan gizi anak saat sakit.

Pesan-pesan kunci tersebut tentunya bisa juga menjadi panduan masyarakat urban. Pesan yang mungkin saja bisa menyelamatkan nyawa 1 anak. Karena tugas kita semua adalah menciptakan lingkungan aman, nyaman dan sehat bagi tumbuh kembang anak-anak.

Leave a Reply