Belajar Cantik Dari Hati

No matter how plain a woman may be, if truth and honesty written accross her face, She will be beautiful. Eleanor Roosevelt

“Maaf, mbak?”. Saya mencondongkan badan karena tidak begitu mendengar kalimat yang diucapkan petugas yang melayani administrasi kesehatan  yang sedang saya urus. Penyakit flu yang menyerang membuat pendengaran saya berkurang dan diperparah dengan suara bising puluhan pasien dan pengunjung pasien yang juga sedang mengantri.

Sambil merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya, Petugas berkulit putih dan perparas ayu itu mengulangi kata-kata yang Ia ucapkan tetapi saya tetap tidak bisa menangkap maksudnya. Untuk ketiga kalinya saya mencondongkan badan dan memasang muka bingung. Kali ini suara perempuan itu meninggi, matanya melotot. Mulutnya mengulang kalimat yang sedari tadi tidak bisa tertangkap gendang telinga saya. Kaget dengan ekspresi jutek perempuan berjilbab itu, saya tersenyum saja sambil mengucapkan nama Dokter yang Ia minta. Setelah urusan dengan petugas itu selesai, saya menghela nafas, lega.

Mendapat perlakuan seperti itu mungkin sudah biasa dialami saat mengurus administrasi, entah di rumah sakit atau di lembaga pemerintahan. Kita tidak bisa menuntut orang-orang seperti ini berperilaku  layaknya pelayan restoran cepat saji yang stock senyumnya seperti tidak pernah habis. Meski tidak baper, saat itu sempat terbersit pikiran “Sayang sekali, padahal petugasnya cantik”. Pikiran tersebut seolah menegaskan bahwa jika tidak berparas menarik, maka tidak apa jika berperilaku jutek. Padahal tidak ada yang menjamin, kalimat “Sudah jelek, jutek pula!”, akan terbersit di pikiran kita yang ternyata juga tidak kalah jeleknya.

wardah cantik dari hati

Perempuan mana yang tidak ingin menyandang predikat cantik? Ketika masih gadis kecil dulu, diganggu dengan panggilan “cewek… cewek….” oleh anak laki-laki saja sudah membuat wajah terasa panas dan pipi memerah. Bagaimana jika perempuan sudah dipanggil ‘cantik’ di kerumunan pemuda pubertas? Meski mengesalkan, perempuan akan tersenyum malu-malu dan berlalu melewati kerumunan menjengkelkan tersebut. Kita perempuan memang senang dipuji dengan kata cantik.

Konsep ‘cantik’ sudah dikenal bahkan sejak manusia pertama di bumi diciptakan. Dikisahkan anak Nabi adam yang bernama Qobil jatuh hati pada pasangan kembarnya yang berwajah rupawan. Padahal ia dinikahkan dengan pasangan kembar saudaranya yang tidak rupawan. Rasa iri yang mendalam membuat Qobil akhirnya membunuh saudaranya. Pembunuhan yang tercatat sebagai pembunuhan pertama dalam sejarah.

Perasaan Lubuda, saudara Habil yang tidak berparas rupawan, mungkin saja hancur pada saat itu. Sebagai perempuan, tidak ada yang ingin diabaikan hanya karena alasan ‘tidak rupawan’ seperti yang dilakukan Qobil. Sayangnya, banyak orang yang memang menilai tampilan fisik. Lupakan soal teori “Don’t judge book by its cover”. Bukankah buku dengan sampul menarik akan lebih mudah tertangkap oleh mata?

Beberapa negara di belahan dunia mempunyai perspektif sendiri soal kecantikan. Di Burma, perempuan cantik adalah mereka yang berleher panjang dengan gelang bersinar yang bagi kita mungkin terlihat menyakitkan. Di negara lain, perempuan bertubuh gempal malah dianggap menarik dibanding yang bertubuh langsing. Lalu ada pula yang merobek bibir mereka karena standar kecantikan di daerahnya adalah bibir yang lebar.

Dengan begitu banyak standar kecantikan yang ada, saya memilih lebih percaya dengan kekuatan kecantikan yang terpancar dari hati. Perempuan yang cantik dari hati terlihat lebih menarik dan lebih ‘bercahaya’. Lihat saja sekeliling,  ada banyak perempuan dengan paras biasa saja tetapi terlihat menawan karena tutur dan perbuatannya yang baik dan tulus.

Seperti halnya merias fisik, merias hati pun butuh perjuangan dan kerja keras. Jangan disangka tersenyum saat pekerjaan sedang menumpuk dan deadline mengejar adalah hal mudah. Begitu pula dengan mengatur mood saat sedang PMS. Semua hal tersebut adalah bagian dari usaha merias hati dan memperkaya jiwa agar bisa cantik dari hati.

Perempuan yang cantik dari hati adalah mereka yang terus belajar dan berusaha memperbaiki perilaku. Mereka tidak sempurna sehingga bebas ‘jerawat’ dan ‘flek hitam’ dosa serta perilaku buruk. Mereka peduli dengan lingkungan sekitar dan mempunyai kepekaan sosial.

Seperti beberapa perempuan yang saya kenal aktif di kegiatan sosial. Mereka datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi. Meski sibuk dengan dunia pekerjaan, mereka masih menyempatkan diri hadir dan ikut serta dalam edukasi pencegahan kekerasan seksual, pendampingan menulis, dan berbagai kegiatan lainnya yang tergabung dalam relawan anak Sobat LemINA.

Mereka ini adalah perempuan-perempuan yang terus mau belajar menjadi ‘cantik’.

 

Bersama relawan Sobat LemINA di wardah community gathering
Bersama relawan Sobat LemINA di wardah               community gathering

 

 

 

 

1 Comment

  1. Hello. I have checked your andiarifayani.com and
    i see you’ve got some duplicate content so probably it is the reason that you don’t rank high in google.
    But you can fix this issue fast. There is a tool that generates content like human, just search in google: miftolo’s
    tools

Leave a Reply