Belajar Membaca

Saya menahan diri untuk tidak menangis meski mata saya mulai berkaca-kaca. Siang itu  seperti biasa saya dan sejumlah relawan berada di salah satu sekolah dampingan sobat lemINA untuk memberikan pendampingan bagi beberapa anak yang belum bisa membaca. Sesi pendampingan ini bisa begitu intens karena satu anak akan didampingi oleh satu relawan.

Seperti biasa, saya memulai pendampingan dengan mengajak anak menghapal huruf A –Z melalui media flash card. Setelah itu, saya meminta anak untuk menyusun namanya menggunakan media tadi. Tanpa diminta, anak yang kudampingi mengusulkan untuk menyusun nama kakaknya setelah berhasil menyusun namanya sendiri.

Cerita berlanjut ketika anak yang kudampingi mulai bercerita tentang kakaknya. “preman kakak ku, kak”, ujarnya dengan wajah sumringah. Tidak ada rasa sungkan ketika ia mengucapkan hal tersebut. Setelah itu, anak ini menceritakan panjang lebar tentang keluarganya, terkhusus tentang kakak ‘preman’ yang ia kagumi.

Dari cerita anak yang kudampingi, saya tahu bahwa kakaknya sudah beberapa kali keluar masuk penjara. Kadang karena mencuri, pernah juga karena membunuh. Di lingkungan tempat tinggalnya, jika ada yang kehilangan barang, sang kakak sudah pasti dituding jadi pelaku. Meski demikian, anak ini mengaku sangat sayang pada kakaknya.

Saat ini sang kakak konon di kurung dalam kamar di rumahnya, kakinya dirantai agar tidak meninggalkan rumah dan melakukan kejahatan. Saya berasumsi kalau ia mungkin sudah mulai tak waras karena efek ngelem sewaktu masih muda. Bisa juga karena pukulan yang kerap ia terima jika melakukan kesalahan seperti mengajak adiknya, anak yang kudampingi, untuk merokok. Ketika ketahuan oleh keluarga, ia dihajar habis-habisan.

Hari itu sesi belajar membaca menjadi begitu singkat, digantikan oleh sesi curhat anak yang kudampingi. Saya pun tidak tega menghentikannya bercerita dan kembali fokus ke bacaan yang harus dia eja. Siapa tahu selama ini cerita-ceritanya hanya ia pendam. Anak sekecil itu yang mengalami kehidupan keluarga yang berat tentu menanggung siksaan batin yang juga berat.

Setelah memastikan anak ini sudah selesai dengan ceritanya, saya hanya bisa berucap agar ia belajar dengan tekun agar bisa cepat lancar membaca. Semoga ia menyelesaikan pendidikannya dan menjadi anak laki-laki kebanggan keluarga, tidak mengikuti jejak sang kakak. “Lanjut meki membaca, nah!” saya menyodorkan buku setelah memberikan wejangan klasik.

Entah kenapa saya menuliskan ini. Bisa jadi karena saya kadang kurang bersyukur hidup di lingkungan keluarga yang aman-aman saja. Mungkin. Dan sekali-kali, Allah mau menegur saya lewat lisan kecil anak kelas 4 yang baru beberapa pekan ini kutemui.

Belajar Membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *