Belajar Menulis Cerita Perjalanan Dari Windy Ariestanty

“…kita beranggapan bahwa menulis itu adalah bikin kata-kata indah. Tidak. Itu namanya bikin kata-kata mutiara. Yang namanya menulis adalah memastikan cerita sampai dengan tepat”

Saya memasuki ruangan dengan nafas memburu. Ah, selalu saja saya dengan mudah menjadi payah hanya dengan menaiki beberapa anak tangga. Sudah beberapa puluh menit berlalu Windy memberikan materi seputar menulis perjalanan. Workshop MIWF bulan Mei lalu memang sangat padat hingga beberapa kali saya harus memilih satu diantara banyak kegiatan menarik yang dapat menambah celengan ilmu. Salah satunya workshop menulis ini.

Tidak ingin melewatkan materi, saya menyalakan alat perekam yang ada pada gawai.

“Banyak penulis perjalanan yang terjebak pada narasi, deskripsi yang panjang dan bertele-tele. Gak perlu. Semakin sederhana, semakin menarik. Yang perlu adalah kita paham struktur cerita. Masalah diksi bisa dipoles belakangan. Caranya? Tidak ada cara lain selain buka kamus. Penulis Narasi harus kaya kosa kata supaya bisa show and tell. Tujuan dari menulis buat saya sederhana, menghibur. Inspirasi adalah dampak. Kalau kalian belum apa-apa sudah set up ingin menginspirasi, maka kalian akan terbebani, padahal proses menulis harusnya menyenangkan. Ketika proses menulis kalian lakukan dengan senang, orang lain akan terhibur. Dampaknya ke orang yaitu mereka mengingat, karena mereka mengingat, mereka mungkin terinspirasi.”

Saya semakin jatuh cinta dengan gaya bertutur perempuan yang pertama kali kutahu dari tumblr rekomendasi salah seorang teman. Tulisan-tulisannya mengalir dan sangat enak dibaca.

“Kisah-kisah besar tidak lahir dari peristiwa besar tapi dari kejelian kita memilih peristiwa-peristiwa kecil untuk disampaikan dengan cara yang berbeda. Kalau kalian bisa menulis cerita komedi, tulislah perjalanan komedi, karena penulis komedi perjalanan tidak banyak. Bill Bryson, ada yang kenal? Salah satu penulis perjalanan dunia yang mengambil genre sejarah dan komedi itu tulisannya luar biasa. Suatu ketika Ia bahkan pernah membuat cerita perjalananyang hanya menceritakan ketika penulis perjalanan tidak ke mana-mana dan tinggal di rumah saja. Yang terjadi adalah apa? Tulisan yang luar biasa memukau menurut saya karena dia mengajak kita untuk keliling rumahnya yang ternyata didesain berdasarkan banyak negara yang menginspirasi dia, padahal dia lagi gak ke mana-mana, karena gak ke mana-mana ia menulis tentang rumah dan bagaimana seorang penulis perjalanan bercerita ketika dia tidak sedang travelling. Bahkan ada sebuah tulisan perjalanan lainnya yang diterbitkan di newyorker, dari seorang penulis perjalanan yang dia memberikan panduan how to travel at my home. Jadi dia adalah penulis perjalanan, tinggal di sebuah apartemen, ditulis dengan gaya naratif dan diterbitkan oleh newyorker. Dan semua tadi adalah tulisan yang sangat menghibur, bukan yang menginspirasi. Apakah Bill Bryson bercita-cita akan menginspirasi saya dan pembaca yang lain? Tidak. Dia hanya menyajikan tulisan yang menyenangkan. Karena bagi penulis, Bisa bermain-main dengan sudut pandang sangat menyenangkan. Itu kayak kita membangun dunia sndiri.”

Ketika menuliskan ini, saya mencari artikel yang ada di The New Yorker dan menemukan artikel dengan judul “The Lonely Planet Guide to My Apartment” yang ditulis oleh Jonathan Stern. Mungkin ini tulisan yang Windy maksudkan tadi.

“Lalu yang sering kita lupa ketika menulis kisah perjalanan naratif adalah mengeksplrasi panca indra. Padahal sebagai penulis dan pejalan, panca indra adalah alat bantu nomor satu. Beruntungnya sebagai penulis adalah tanpa alat bantu apapun, tanpa kamera, kita tetap bisa menulis, kita bisa tetap bercerita. Sementara kalau fotografer dia tetap butuh kamera, kan? Kalau gak ada kamera dia gak bisa berkarya. Kalau kita gak. Kita cukup jalan dengan membawa panca indra kita, lalu melebur, beriteraksi. Ini paling penting, apa yang dilihat, apa yang dirasa, apa yang didengar. Belajarlah nguping”

Windy lalu bercerita kalau ia adalah orang yang suka nguping. Ia percaya bahwa cerita-cerita kecil bisa jadi kisah besar di kepala.

“…jangan remehkan apa yang terjadi di sekitar kita. Eksplore apa yang kalian lihat dan kalian rasa…”

Salah satu hal yang menyenangkan menghadiri Workshop Windy adalah saya menemukan banyak referensi bacaan dan penulis baru.

“Berikutnya  jangan sampai kalian lupa adalah riset. Nah, riset tidak hanya sekedar menggali secara mendalam tetapi juga berusaha  memahami sesuatu di balik sesuatu. Sebagai penulis, teman-teman harus berlatih untuk tidak menganggap sesuatu  sebagai sesuatu saja. Misalkan ketika saya menceritakan tentang makanan, makanan tidak hanya tentang makanan. Di balik sebuah makanan ada sesuatu. Saya tertarik dengan misalnya pemilik rumah makan yang memiliki keyakinan bahwa sebuah makan harusnya sudah adil sejak dari diproduksi. kan panjang sekali bagi dia berpikir kan. Karena itu dia melakukan pendampingan pada semua orang yang menjadi supplier bahan-bahan makanannya hanya untuk memastikan yang dapat makanan itu sudah adil. berikutnya ia menghimbau kepada pengunjung yang datang untuk makan tanpa menggunakan hape. kenapa? karena makanan disajikan oleh juru masaknya dengan sungguh-sungguh…”

Selanjutnya, Windy memberikan penjelasan sederhana tentang rewrite, menulis ulang. Intinya jarang ada penulis yang bisa menerbitkan tulisan dari sekali menulis. Ada proses menulis ulang sebelum menghasilkan sebuah tulisan utuh.

Terakhir, perempuan dengan rambut bercat putih ini menekankan akan pentingnya respect pada tempat yang dikunjungi.

ah, saya menyesal terlambat datang :”)

2 Comment

  1. cerita-cerita kecil bisa jadi kisah besar di kepala.

    BETULLL tawwa… ah kerennya
    ajakka juga dong sharing sama mbak windy ariestanty
    atau nanti qt ketemu sharing yaaa nuuu :-*

  2. […] 5 keunggulan dari FLIX Cinema. Menarik, ya? Nah, untuk memeriahkan waktu liburan anda bersama keluarga, tempat ini bisa menjadi rujukan yang pas. Selamat […]

Leave a Reply