Bertahan Hidup di tengah Pagebluk

Masih tidak bosan kan diingatkan tentang cara memakai masker dengan benar?
sumber gambar: freepic

Ketika menulis draft pertama tulisan ini, saya sedang menunggu hasil swab test dari puskesmas. Sementara saudara perempuanku masih dikarantina di salah satu hotel covid yang ada di dekat Pantai Losari.

Sebelum kakakku, kabar anggota keuarga yang terkena covid-19 datang berturut-turut. Mulai dari sepupu yang tinggal beberapa lorong dari rumah hingga om dan tante beserta satu keluarga mereka.

Namun seperti layaknya orang Indonesia yang selalu bisa melihat sisi positif dari semua kejadian, bisa dibilang kalau ditimpa cobaan covid-19 di keluarga kami tentu masih banyak kata ‘untung’nya. Untung kakakku hanya bergejala ringan dan tidak perlu dirawat di rumah sakit. Untung masih bisa karantina di hotel dan menerima fasilitas negara dengan cuma-cuma, untung punya teman yang bisa membantu mengurus proses karantina dengan cepat, serta berbagai ‘untung’ lainnya. Kata ‘untung’ ini lalu diterjemahkan menjadi rasa syukur karena itu adalah salah satu cara untuk tetap waras dan menjaga kondisi mental saat ini.  

Jujur saja sejak pertama kali dinyatakan kasus covid pasien 01 di Indonesia pada bulan maret tahun 2020, saya dilanda kecemasan yang berlebih. Hal ini  diperparah saat PSBB pertama dan saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Meski menyelesaikan beberapa proyek pribadi, kebutuhan berinteraksi dengan manusia ternyata sangat penting untuk jiwa extrovertku yang kalem. Saya harus menelpon teman! saat itu menjadi momen untuk menghubungi teman-teman lama dan menanyakan kabar mereka. 

Berbulan-bulan kemudian sejak kasus pertama diumumkan, saya mulai bisa beradaptasi dan berdamai dengan keadaan. Siapa sangka kita akan ada di masa seperti ini dan menjadi saksi sejarah dari wabah yang sudah merenggut 2.46 juta nyawa di seluruh dunia. Kita menjadi lebih rajin mencuci tangan, mengurangi berjabat tangan, selalu memakai masker di tempat umum dan lebih sering mendengar bunyi psst psst dari handsanitizer yang kita bawa kemana-mana. 

Dampak Pagebluk di Sekitar Kita

Tapi kenapa banyak ji kulihat orang belanja di mal?”, seorang teman berceletuk saat kami sedang mengobrolkan tentang dampak covid-19 bagi isi kantong kita. “Artinya banyak ji uangnya orang“, ia melanjutkan. Saya terdiam sebentar dan berpikir, iya juga sih. Tetapi apa yang tampak di data bisa jadi tidak begitu terlihat secara nyata di kehidupan sehari-hari. Di awal kemunculan covid saja, angka pengurangan tenaga kerja mencapai 2 juta orang di Indonesia. Kakakku juga menjadi salah satu karyawan yang dirumahkan karena perusahaan tempatnya bekerja harus gulung tikar. Jadi bisa dibilang bahwa statistik dan data tersebut valid dong? 

Sementara itu di sebuah rapat rutin kantor,  salah seorang rekan kerja terlihat begitu sibuk dengan hape dan laptopnya. Bukan sedang mencatat hasil rapat tetapi berkomunikasi dengan anaknya di rumah yang sedang ulangan sekolah. Ia membantu mencarikan jawaban dan juga mengarahkan cara mengisi lembar-lembar pertanyaan yang dikirim oleh guru melalui whatsapp

Kami yang menyaksikan pemandangan tersebut tentu sudah mahfum. Rekan kami ini beberapa kali meminta maaf diiringi dengan celotehan tentang betapa sulitnya menghadapi anak-anaknya yang bersekolah daring.

Sementara itu di sebuah desa kecil nun jauh di Kabupaten Enrekang, Ibuku yang seorang guru sekolah dasar tertatih-tatih belajar menggunakan teknologi dan beradaptasi dengan sistem pembelajaran tanpa tatap muka. Puluhan tahun pengalamannya mengajar tidak serta merta membuatnya bisa menghadapi pagebluk.

Berbeda sekali dengan anak-anak sekolah swasta yang ada di Makassar. Saya dan beberapa teman di Sobat LemINApernah pada bulan September tahun lalu mengisi kelas tentang pentingnya cuci tangan memakai sabun. Sesi edukasi yang berjalan melalui zoom saat itu berjalan dengan lancar. Anak anak ini jelas punya akses dan sumber daya yang cukup untuk belajar jarak jauh. 

Menjaga Optimismes, Menjaga Kewarasan

Ditengah segala tantangan dan pengalaman saat pandemi covid-19, saya yakin manusia bisa selalu bertahan bagaimanapun caranya. Lihat saja bagaimana vaksin covid 19 bisa diciptakan dalam waktu yang tergolong singkat. 

Bulan februari 2021 ini artinya kita sudah bertahan selama hampir satu tahun dari pagebluk covid-19. Bela sungkawa untuk mereka yang kehilangan orang-orang tercinta selama periode ini. Untuk yang masih hidup, bisa sampai di waktu sekarang dalam keadaan sehat menjadi hal yang sangat patut untuk disyukuri. Iya, kematian bisa datang kapan saja dan sudah ditentukan waktunya. Tetapi caranya bagaimana dan seperti apa kita mati masih bisa kita pilih. Selamat menjalani hidup dengan bahagia. Pandemi masih belum tahu kapan berakhir, tetapi optimisme harus kita jaga untuk bekal bertahan hidup dengan waras beberapa hari, bulan atau puluh tahun ke depan. 

PS: Oh iya, ketika menyelesaikan tulisan ini, kakak ku sudah kembali ke rumah setelah 11 hari di hotel. Berat badannya turun terlihat dari pipinya yang sedikit tirus. Tidak lama meletakkan tas-tasnya yang berisi pakaian kotor dan obat-obatan di kamar, ia menuju dapur mencari makanan rumah yang sudah dirindukannya. Saya juga sudah beraktifitas seperti sedia kala setelah isolasi mandiri dan menerima hasil swab PCR yang negatif. 

Tulisan ini diikutkan dalam #TantanganBlogAM2021

2 Comment

  1. Sehat-sehat selalu ya Ifa. Semoga kita semua bisa terhindar dari virus ganas ini.
    Sebenarnya akan baik kalau semua orang kena ya, karena akan muncul kekebalan herd immunity, tapi masalahnya kita nda bisa memilih kalau kena cuma gejala ringan saja. Bisa-bisa kena tapi langsung gejala berat, waduh! Itu yang bahaya.

    1. arifayani says: Reply

      Terima kasih Daeng. Kalau saya pilih semua orang vaksin 😀

Leave a Reply