Bukan Ring of Fire Adventure

Jika ditanya mengenai program TV favorit, mungkin saat ini saya tidak bisa menjawab dengan yakin karena semakin jarang menonton televisi. Saya tahu beberapa drama India karena sempat merawat Ibu di rumah sakit yang kamarnya dilengkapi dengan TV dengan siaran yang nyaris tidak pernah berpindah. Itu dikarenakan Ibu adalah penggemar film India kelas berat. Jika berani memindahkan channelnya, bisa-bisa saya dikutuk menjadi pemain sinetron Uttaran yang sekarang sudah tammat. Setelah Ibu sembuh dan kembali ke kampung, saya kembali menjalani kesibukan seperti sedia kala serta semakin jauh dari benda kotak dengan layar bergambar ini.
Hingga sekitar sebulan lalu saat libur dan membunuh waktu di rumah, tidak sengaja menonton acara di stasiun Kompas TV yang berjudul Ring of Fire Adventure (RoFA). Awalnya saya pikir acara ini hanya seperti acara petualangan biasanya yang menampilakan anak muda dengan tubuh penuh tatto dengan gaya hits yang menari-nari di tepi pantai atau di tempat wisata. Tebakan saya salah besar.

Ketika ingin memindahkan ke channel lain, kakak perempuan saya melarang sambil bercerita betapa kerennya acara Ring of Fire Adventure. Dengan semangat berapi-api kakak bercerita tentang Youk Tanzil dan keluarganya yang menjelajah Indonesia dengan mengendarai motor besar. Yang mengagumkan adalah usia Youk Tanzil yang tidak lagi muda. Masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Ramond Y Tungka yang menjadi pembawa acara 100 hari keliling Indonesia. Sssstt, ini adalah acara favorit saya waktu masa-masa akhir kuliah dulu. Saking sukanya, buku dan videonya pun tidak luput saya koleksi.
Setelah menghabiskan waktu menonton Ring of Fire Adventure malam itu, saya jadi mupeng berat melihat petualangan Youk Tanzil. Andai motor matic saya kuat keliling Indonesia, mungkin saya tidak akan melakukan hal seperti Youk Tanzil. Alasannya sederhana, pulang pergi kantor dari Kabupaten Gowa ke Kota Makassar saja sudah membuat saya tergelapar lelah setiap malam, apa lagi harus naik motor menjelajahi Indonesia. Lha, ini jadi curhat. Maaf ya.
Meskipun belum bisa seperti Youk tanzil dan keluarganya yang menjelajah Indonesia dengan sepeda motor keren, di dalam lubuk hati yang terdalam saya tentu ingin seperti mereka. Jadi sudah saya putuskan akan mencicil perjalanan saya mulai dari daerah Sulawesi Selatan. Jika melihat ke peta, saya akan menempuh perjalan ke arah selatan sulawesi menuju Kepulauan Selayar.
Karena tinggal di Kabupaten Gowa, jadi saya akan berangkat melewati Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Bulukumba kemudian menyebrang ke Kepulauan Selayar. Untuk waktu keberangkatan saya masih belum menentukan, jadi rute perjalanan yang akan saya buat terlebih dahulu.
Hari pertama saya akan berangkat ke Kabupaten Takalar. Di kabupaten yang mempunyai lambang daerah hewan lipan ini saya akan mengunjungi beberapa pantai di kecamata Galesong. Setelah puas menikmati pemandangan pantai, berfoto dan mengunggah ke media sosial, saya akan melanjutkan perjalanan ke Daerah jeneponto. Tetapi sebelumnya saya akan makan siang di rumah makan coto palekko yang ada di perbatasan Gowa-Takalar. Beberapa teman merekomendasikan makan coto di sini karena daging yang segar serta proses olah coto yang baik sehingga konon rasanya sangat nikmat.
Sebelum memasuki kabupaten Jeneponto, mencicipi jagung manis rebus yang dijajakan di sepanjang jalan sepertinya menarik. Jadi saya akan singgah dan membeli beberapa bungkus untuk dibawa ke Kabupaten Jeneponto. Untuk apa? Untuk menyogok salah seorang teman agar bersedia menampung saya selama sehari di sana tentunya.
Saya memilih menginap di salah satu rumah teman di Kabupaten Jeneponto karena ingin menyaksikan pasar kuda serta mengunjungi daerah pembuatan garam di sana. Kabupaten yang sering disebut daerah gersang ini terkenal dengan hewan kuda yang diperjual belikan serta dikonsumsi menjadi coto kuda. Well, sepertinya perjalanan saya juga akan menjadi wisata kuliner yang asyik.
Dari Jeneponto saya akan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bantaeng dan lagi-lagi akan menginap di rumah teman. Topografi alam yang beragam membuat saya harus menyediakan waktu khusus saat berada di Kabupaten ini. Rencananya, saya akan melihat kebun strowberry dan taman bunga. Setelah itu mungkin saya akan menikmati pantai marina dan mencoba makanan lokal daerah ini.
Puas di Kabupaten Bantaeng saya akan melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bulukumba. Keindahan pantai dan pasir putih yang ada di daerah ini tidak usah dipertanyakan lagi. Tetapi saya tidak akan menghabiskan banyak waktu di pantai. Mencari tempat pembuatan perahu Phinisi menurut saya lebih menarik. Perahu ini menjadi simbol kebanggan suku Bugis yang sejak dulu terkenal sebagai pelaut yang ulung.
Setelah melihat pembuatan perahu Phinisi, saya akan berkunjung ke suku Kajang yang terkenal dengan pakaiannya yang serba hitam dan menutup diri dari modernitas. Mungkin hampir sama dengan suku Badui yang ada di jawa. Kalau diisinkan, saya juga akan menginap di suku ini. Semoga ada yang bersedia menampung saya ya.
Pamit dari suku Kajang, perjalanan saya akan berlanjut menyebrang ke Kepulaua Selayar. Mengunjungi perkampuangan tua, menyelam dan menyaksikan keindahan terumbu karang serta pantai dengan pasir putih yang indah sepertinya akan menjadi penutup perjalanan yang sempurna.
Rencana perjalanan ini memang masih belum matang sama dengan isi kantong saya. Tetapi dengan bermodal sahabat dan restu orang tua, rasanya tidak ada yang mustahil.

1 Comment

  1. karin says: Reply

    Hallo, bisa minta kontak emailnya? saya ingin memberikan sebuah penawaran sponsr post pada blog anda, Thanks

Leave a Reply