Cerita Air dan Ibu

Ramadan tahun lalu mungkin adalah ramadan terberat. Kami sekeluarga memutuskan pindah dari rumah nenek yang berlokasi di Makassar ke rumah yang sementara dibangun di Gowa. Saat itu debu semen dan timbunan pasir masih berada di mana-mana. Lantai rumah masih dalam proses pemasangan tegel. Tapi di tengah situasi seperti itu, Ibu yang masuk rumah sakit adalah cobaan terbesar yang kami sekeluarga rasakan.

Ibu didiagnosis mengidap batu ginjal. Sebuah bercak putih terlihat dari hasil USG rongga perutnya. Hal tersebut membuatnya harus menahan rasa sakit yang sangat pada ginjalnya. Akibat batu ginjal itu, Ibu demam dan juga menggigil berhari-hari. Beberapa kali Ibu masuk UGD dan rawat inap.  Beberapa keluarga menyarankan Ibu berobat secara herbal. Mereka merokemendasikan tanaman yang dipercaya mampu meluruhkan batu ginjal. Obat herbal batu ginjal juga banyak beredar di pasaran. Tapi Ibu memutuskan berobat di rumah sakit dan menjalani serangkaian operasi. Mulai dari pemasangan selang, pelepasan selang, hingga operasi laser untuk menghancurkan batu ginjal. Sejak saat itu, Ibu tidak lagi mengkonsumsi air minum masak. Ia mulai meminum air kemasan yang konon jauh lebih sehat.

Oh iya, Ibu memang tinggal di sebuah desa di Kabupaten Enrekang dan mengkonsumsi air minum yang dimasak dengan kayu bakar. Saat kecil dulu, saya dan saudara selalu ditugaskan memasak air di sebuah panci yang sangat besar. Tugas memasak ini biasanya dilakukan sekali seminggu sembari menonton fim kartun. Jika sudah mendidih, air yang masih dalam keadaan panas ini dipindahkan ke dalam gumbang tanah berukuran jauh lebih besar dari panci masak air. Panci yang sudah kosong kemudian diisi kembali untuk bakal air minum selanjutnya. Kayu bakarnya ditambah dan saya melanjutkan menonton film kartun.

Air yang kami masak berasal dari mata air yang yang berada di kaki gunung yang disambung ke rumah dengan pipa dan selang. Air ini kemudian ditampung di bak rumah dan digunakan untuk keperluan rumah tangga. Beberapa teman kecilku dulu senang sekali meminum air ini langsung dari kran atau selang. Saya juga pernah beberapa kali mencobanya namun berujung dengan omelan dari Ibu. Katanya minum air yang tidak dimasak bisa menyebabkan sakit perut.

Karena terbiasa dengan air di kampung yang penuh dengan ampas jika diendapkan membuat saya berpikiran bahwa semua air yang dimasak pastilah memiliki ampas putih seperti yang ada di kampung. Kenyataannyaa, ternyata berbeda ketika saya mulai bersekolah di kota. Air di kota tidak memiliki ampas dan tidak menyebabkan penampungan air menjadi putih. Katanya, kandungan kapur yang tinggi pada mata air di kampung kamilah yang menjadi penyebabnya.

Disinyalir kondisi air di kampung yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Ibu terkena penyakit batu ginjal. Mungkin ditambah dengan faktor lainnya. Tapi sekarang kondisi ibu semakin membaik. Ia kembali beraktifitas seperti biasa yaitu mengajar murid sekolah dasar dan berjualan. Saya dan saudara di Makassar hanya bisa mengingatkannya untuk terus menjaga kesehatan dan mengkonsumsi air yang baik.

Karena penyakit Ibu ini saya banyak mencari tahu tentang batu ginjal. Tak pelak saya sedikit waspada dengan kesehatan diri sendiri. Mengkonsumsi air minum yang cukup dan selalu menyiapkan air putih di meja kerja. Iya, nikmat kesehatan memang baru terasa berharga jika sedang sakit.

NB: Ditulis sebagai bagian dari #15haritantanganmenulis

Cerita Air dan Ibu

One thought on “Cerita Air dan Ibu

  • 15 June, 2017 at 10:50 AM
    Permalink

    alhamdulillah kalau sudah membaik ibunyaaa ifaa. nenek saya juga tahun2 kemarin abis operasi batu ginjal gitu karena katanya sering minum air yg dimasak pakai kayu bakar gitu mmg orang2 di kampung masak airnya biar katanya lebih hemat..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *