Cerita Baik dari Lorong Rappocini

Cerita Baik dari Lorong Rappocini

Apa yang terbersit ketika mendengar kata Rappocini? Bagi orang Makassar, nama Rappocini dulu sering diasosiasikan dengan tempat anak-anak bau kencur yang suka balapan liar, atau sarangnya para kriminal. Hal yang masih melekat sampai sekarang adalah Rappocini sebagai kawasan untuk membeli hape cina. mampir ki, kaka!

Lebih dari itu, rappocini adalah kecamatan yang dihuni kurang lebih 164.563 jiwa (data tahun 2107). Terletak di jantung kota Makassar, pergerakan ekonomi yang terjadi di tempat ini menyumbang pemasukan pajak yang cukup signifikan. Pusat perbelanjaan dan bermacam toko bisa ditemukan dengan mudah.

Dibalik hitam putih cerita dari Kecamatan Rappocini, terdapatkisah-kisah hebat dari lorong-lorong kecilnya. Jumat, 27 Sepember saya dan beberapa blogger dari komunitas Blogger Angingmamiri Makassar mendapatkan kesempatan dari Astra untuk megunjungi lorong dan bercerita langsung dengan warga sekitar.

Tiba di depan lorong, rombongan disambut dengan tari selamat datang oleh empat gadis dan anggaru badik dari salah seorang penari pria. Lewat kalimat-kalimat dalam bahasa daerah makassar, penari pria tersebut menyambut sembari mengacungkan badik. Bagi yang awam dengan bahasa dan tradisi Bugis Makassar mungkin bisa menyalah artikan gestur ini sebagai ajakan berkelahi karena disertai dengan suara yang cukup melengking, namun jangan salah, ini adalah bentuk keramah tamahan dari orang Makassar.

Pendidikan Hak Semua Anak

Tempat pertama yang dikunjungi adalah TPA Babul Jannah yang terletak di lorong 3. Kami diajak menuju ruangan kecil di belakang rumah perempuan bernama Raodah yang merupakan guru di tempat ini. Perempuan yang akrab disapa Kak Oda ini mengungkapkan kalau TPA Babul Jannah didirikan sudah lama oleh Ayahnya yang bernama Haryadi Tuwo. Baru pada tahun 2010 PAUD ini memperoleh legalitas.

Melalui dedikasi dan kerja keras, tempat ini bertahan dan bisa meluluskan anak-anak dari tahun ke tahun. Masih teringat cerita seorang kawan yang dulu tingal tepat di samping TPA tentang sosok Pak Haryadi yang baik.

Meski sudah tiada, pendiri TPA Babul jannah meninggalkan jejak kebaikan yang terus dilanjutkan oleh Kak Oda, putrinya. Seperti semangat Astra untuk pendikan, tempat ini menjadi jawaban untuk pendidikan anak usia dini yang terjangkau bagi masyarakat sekitar.

Sanggar Seni Rappocini

Usai dari TPA Babul Jannah, kami berpindah ke Sanggar Seni Rappocini yang terletak tidak jauh dari TPA Babul Jannah. Sepanjang perjalananan, sisi kiri dan kanan lorong terlihat berwarna dengan bermacam-macam mural yang menarik. Sulit untuk menahan diri untuk tidak mengambil foto di tempat ini.

Anak-anak binaan Sanggar Seni Rappocini
Anak-anak binaan Sanggar Seni Rappocini

Belum juga memasuki lokasi sanggar seni, kembali kami disambut dengan tarian tapi kali ini dilakukan oleh anak-anak perpakaian kuning dan biru cerah. Gandrang bulo adalah nama tarian yang mereka bawakan. Diiringi tabuhan gendang, anak-anak bergerak dengan lincah disertai dengan ekspresi yang jenaka. Dulunya tarian ini dibawakan hanya oleh orang dewasa untuk memberikan semangat melawan penjajah serta sebagai simbol perlawanan. Seiring waktu, gandrang bulo semakin banyak ditarikan oleh anak-anak dan dibawakan sebagai tari hiburan di acara-acara formal atau sebagai tari sambutan.

Anak-anak yang menari ganrang bulo ini adalah contoh binaan di Sanggar Seni Rappocini. Mereka dilatih menari dan sesekali mendapat undangan tampil di berbagai acara. Kegiatan yang tentunya mengasah keterampilan dan rasa percaya diri anak-anak.

Sanggar seni ini didirikan sejak tahun 2013 lalu. Pada tahun 2016, Astra memberikan bantuan dengan pengadaan alat musik dan aksesoris tari. Bantuan yang sangat disyukuri oleh pengelola sanggar karena ketersediaan alat yang memadai menjadi penunjang utama sanggar ini bisa terus berkegiatan.

Bukan Posyandu Biasa

Buku rekening bank minyak jelantah

Kembali kami berjalan kaki setelah puas melihat-lihat aktifitas dan berfoto di Sanggar Seni Rappocini. Kali ini menuju Posyandu yang berada kira-kira 100 meter dari lokasi sebelumnya. Awalnya saya berpikir bahwa tempat ini seperti posyandu pada umumnya yaitu sebagai tempat memeriksa bayi, ibu hamil dan lansia. Pikiran ini terbantahkan ketika melihat beberapa jergen dan pemandu mulai menjelaskan tentang aktifitas menabung minyak jelantah di posyandu.

Bekerjasama dengan salah satu social enterprise bernama GenOil, posyandu menjadi bank untuk minyak jelantah sementara warga sekitar menjadi nasabahnya. Minyak jelantah yang biasanya dibuang ke saluran air atau tempat cuci piring bisa dibawa lalu ditimbang. Petugas lalu mencatat jumlah tabungan minyak jelantah setiap nasabah. Jika mencapai jumlah tertentu, tabungan ini akan dikonversi menjadi minyak baru. Solusi yang ramah lingkungan dan meningkatkan perekonomian karena ibu rumah tangga bisa berhemat.

Solusi yang sangat cerdas di tengah konsumsi minyak kita warga Indonesia yang sangat banyak. Menu makanan kita memang hampir tidak lepas dari gorengan. Ibu-ibu juga tak perlu memakai minyak berkali-kali bahkan hingga menghitam untuk alasan berhemat padahal bisa berdampak buruk untuk kesehatan. Keren bangeet! saya berujar dalam hati sembari berharap semakin banyak inovasi seperti ini di lingkungan kita.

Berdaya Melalui UKM Rotan

Dua orang anak muda sedang mengerjakan kerajinan berbahan rotan

Berjalan lebih jauh dari posyandu, kami tiba di UKM rotan. Di ruangan seukuran kurang lebih 6 x 5 meter ini terlihat dua orang anak muda yang jari-jarinya lihai membentuk rotan menjadi kursi dan meja. Sudah setengah jalan, nampaknya butuh beberapa jam lagi hingga rotan tersebut sempurna menjadi sebuah kursi cantik nan tahan lama.

Pak Alex, pemilik UKM rotan ini mengungkapkan kalau usaha rotannya bisa berkembang berkat suntikan modal dari Astra. Jejaringnya meluas dan semakin sering Pak Alex mendapatkan pesanan pembuatan furniture berbahan rotan. Jika pesanan membeludak, ia akan mengajak anak muda di lingkungan sekitarnya untuk membantu. Ini bukti bahwa Pak Alex telah memberdayakan lingkungannya tidak hanya menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk diri sendiri, ia juga mampu menciptakan lapangan kerja.

Mengenal Program-Program Astra dan Satu Indonesia Awards

Saya mengenal program-program Astra sejak beberapa tahun lalu. Berawal dari iklan, lalu banyak membaca tulisan teman. Beberapa seminar juga saya hadiri terkait program pemberdayaan Astra dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Selayaknya business entity yang punya tanggung jawab sosial untuk lingkungan sekitarnya, Astra mampu menciptakan program-program yang menyentuh berbagai bidang. Bidang pendidikan melalui ASTRA CERDAS, aspek lingkungan melalui ASTRA HIJAU, aspek kesehatan melalui ASTRA SEHAT, dan tidak lupa aspek seni melalui ASTRA KREATIF.

Kontribusi sosial lainnya dari Astra adalah adanya Kampung Berseri Astra seperti yang telah kami saksikan hasilnya di lingkungan Rappocini. Kehadiran Astra mendukung kegiatan pendidikan, seni, kesehatan dan wirausaha di lingkungan ini telah mengubah wajah Rappocini yang penuh stigma. Masyarakat diberdayakan, lingkungan juga dibuat elok dengan banyak mural dan penunjuk arah.

Ada juga Satu Indonesia Awards yang merupakan apresiasi Astra terhadap anak muda Indonesia yang melakukan perubahan sosial di lingkungannya. Jika terpilih maka akan mendapatkan dana bantuan senilai Rp 60.000.000 dan pembinaan kegiatan.

Beberapa teman yang kukenal pernah mendapatkan nominasi Satu Indonesia Awards seperti Kak Appi dari Yayasan 1000 guru melalui program Rural Women Empowerment dan Kak Nunu lewat Floating School. Semuanya anak muda terbaik daerah yang membanggakan.

Hal paling saya suka dari program-program Astra adalah banyaknya orang yang terekspos dengan berbagai cerita inspiratif yang ada di Indonesia. Berita dan cerita yang membangun rasa kebangsaan serta optimisme bahwa negara kita tidak kekurangan orang-orang baik. Mereka tidak harus berada di depan gemerlap layar kaca, bisa jadi mereka hanya selemparan batu dari lingkungan kita, seperti Rappocini.

Leave a Reply