Cerita Dari Desa Kahayya

 

Rakyat bersuka cita hari itu. Sebuah perhelatan perayaan pernikahan putera dari wakil raja Kindang digelar dengan meriah. Hari itu, Nuju Daeng Eja atau Karaeng Eja resmi mempersunting perempuan berdarah biru bernama Puang Hajare. Meski tak menggunakan event organizer Bride Story seperti pasangan Raisa dan Hamish, pernikahan mereka berlangsung dengan khidmat tanpa hastag #haripatahhatikerajaan. Bersama mereka akan melalui bahtera rumah tangga dan melanjutkan silsilah keturunan keluarga Rangkasan Daeng Palihang, sang sullehatang (wakil raja) yang dihormati.

Oleh Daeng Pallihang, suami istri yang berbahagia ini diperintahkan menuju salah satu hutan belantara di daerah Bonto, alih-alih memberikan mereka kenyamanan dengan harta dan kekuasaan. Wilayah yang terletak di antara pegunungan Bawakaraeng dan pegunungan Lompobattang ini tak pernah tersentuh dan jauh dari peradaban.

“Pergilah, nak. Bonto adalah hadiah dari Karaeng Kindang. Kalian akan membangun kehidupan di sana,” Rangkasang Daeng Palihang melepas anak dan menantunya.

“Tapi, Ayah. Menerima pemberian dari Karaeng Kindang apakah tidak termasuk gratifikasi? Bagaimana kalau Ananda diproses KPK?” Karaeng Eja menunjukkan wajah khawatir.

Tenang saja nak, itu tanah halal dan diberikan sebagai hibah untukmu dan keturunanmu kelak. Pergunakanlah dengan bijak. Kamu tak perlu berpura-pura sakit agar tak masuk buih. Kelola tanah itu dengan bijak dan tanpa korupsi.” Daeng Palihang meyakinkan anaknya. Karaeng Eja dan Istri lalu pamit. Mereka tidak pergi berdua tetapi juga diutus beberapa orang termasuk Guru Puteh dan Baco Lumpakan.

Tiba di Bonto, Puang Hajare, istri dari Kareng Eja menatap pegunungan yang dikelilingi hutan belantara yang dipenuhi kabut ini. Matanya basah menahan kesedihan jauh dari sanak saudara dan sekarang harus terdampar di tempat antah berantah. Terlebih lagi, di tempat ini tak ada sinyal internet untuk sekadar instastory, padahal pemandangannya indah. Pilu ia membayangkan kehidupan yang akan dilaluinya di Bontoa. Melihat istrinya yang kelelahan setelah perjalanan jauh dari pusat kerajaan Kindang, Karang Eja meyakinkannya akan kehidupan yang lebih baik di Bonto. Ia akan membangun kehidupan untuk istri dan pengikut-pengikutnya di sini, seperti pesan ayahnya.

Tidak lama, datang Botoa Ri Lempangan atau Tu Panritayya ri Lempangan, sosok yang dimintai petuah di daerah itu. Suatu ketika penduduk kampong Bonto menemukan tanaman yang tidak diketahui namanya. Tanaman tersebut dibawa ke hadapan Botoa ri Lempangan. Karena tak bisa browsing dan bertanya pada google, Ia kemudian memberikan nama Kaha pada tanaman tersebut. Salah satu jenis tanaman yang kelak menjadi salah satu minuman yang paling sering dikonsumsi manusia di dunia. Kaha, yang kemudian mengganti nama Bontoa dan menjadi cikal bakal nama Kahayya, desa di balik awan yang aroma kopinya kini sampai ke mancanegara.

***

Cerita di atas terinspirasi dari sejarah Desa Kahayya yang tertera pada profil desa. Ada bagian yang saya tambahkan terutama bagian percakapannya agar lebih hidup. Saya mengetik ini sembari membayangkan seperti apa kehidupan di Desa Kahayya ratusan tahun silam. Bagaimana Desa ini bisa muncul dari ketiadaan, terpencil lalu namanya menyeruak bersama aroma kopinya yang harum.

Nama Desa Kahayya sendiri saya ketahui beberapa tahun silam ketika sebuah poster berjudul Senandung Kopi Kahayya berseliweran di linimasa. Heran karena desa ini berlokasi di Kabupaten Bulukumba yang selama ini lebih dikenal dengan wisata bahari dan pasir putih pantainya. Karena alasan tertentu, saat itu saya harus mengurungkan niat untuk melihat langsung desa yang namanya sudah terdengar seperti Kahyangan, tempat dewa dan peri bermukim dalam kisah dongeng. Bukan kahyangan tempat mimi peri menebar pesona dan menggoda cowok-cowok dengan manjah.

Keinginan untuk menapak di Kahayya akhirnya terwujud saat mengikuti workshop blogger inklusi yang difasilitasi oleh Celebes Community Foundation bekerjasama dengan Program Kemitraan. Bersama Kurang lebih 20 bloger, kami menuju Desa Kahayya untuk melihat langsung praktek inklusi di desa ini.

Desa Kahayya sendiri dulunya hanyalah sebuah dusun kecil yang masuk wilayah administratif Desa Kindang, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba. Pada tahun pergolakan reformasi tahun 1999, dusun Kahayya dimekarkan menjadi dua dusun yaitu Dusun Kahayya dan Dusun Tabbuakang. Lima tahun berikutnya, dusun kembali dimekarkan dengan penambahan satu dusun yaitu dusun Gamaccayya. Ketiga dusun ini kemudian menjadi desa defenitif Kahayya pada tanggal 27 Desember 2011 melalui penandatanganan surat keputusan.

Saya bisa bernafas lega ketika tiba di Desa Kahayya. Perjalanan ke Desa ini cukup mendebarkan dengan rute ekstrim. Sebelumnya beberapa kawan harus turun dari mobil karena jalur yang rusak dan membuat mobil yang kami tumpangi rawan tergelincir. Saya merapal doa berkali-kali ketika mobil kami melaju dengan kencang di sebuah tikungan. Hal ini dilakukan agar mobil tetap stabil dan tidak mundur karena jalan yang kami lalui menanjak. Beberapa teman mengabadikan momen ini dengan membuat video pendek yang waktu itu tidak bisa diunggah ke media sosial karena keterbatasan sinyal.

Setiba di depan rumah kepala desa, rombongan kemudian terpisah. Mayoritas perempuan ditempatkan di rumah Kepala Dusun Kahayya yang tidak jauh dari rumah Kepala Desa. Jalan beton menuju rumah Pak Dusun yang kemudian saya ketahui bernama pak Ansar, cukup mengejutkan. Mulus dan rapi meski cukup membuat ngos-ngosan karena kami harus menanjak. Setelah dipersilahkan istirahat oleh istri Pak Dusun yang ramah, segera saya membasuh muka, membuka sleeping bag dan terlelap. Perjalanan berjam-jam dari Makassar disertai drama jalanan rusak cukup membuat lelah. Saya tertidur untuk pertama kalinya di Kahayya, berharap semoga tidak memimpikan mimi peri.

Mendengar dan Melihat Kahayya dari Mata Warga Setempat

Ditempatkan di rumah kepala Dusun Kahayya membuat kami bisa leluasa bertanya banyak hal kepada laki-laki paruh baya bernama lengkap Ansar ini. Beliau melayani pertanyaan kami dengan sabar sambil sesekali menghirup rokok yang hampir tidak pernah lepas dari tangannya.

Dengan penghasilan tidak menentu, Pak Ansar yang merupakan petani kopi mengaku bisa menyekolahkan kedua anaknya sampai jenjang kuliah dari hasil bertani kopi. Meski di desa ini SMP satu atap merupakan pendidikan jenjang tertinggi, semangat untuk menyekolahkan anaknya tidak surut. Saat ini kedua anak pak Ansar sedang berkuliah di Makassar, salah satunya mengambil jurusan kehutanan di sebuah universitas swasta.

Pak Ansar, kepala Dusun Kahayya

Dari pak Ansar kami tahu bahwa banyak hal yang berubah di Kahayya beberapa tahun belakangan. Kehadiran LSM seperti Sulawesi Community Foundation (SCF), Indonesia Movement Project dan Dompet Dhuafa memberikan perubahan yang positif terutama pada pengolahan kopi sebelum dan pasca panen. Selain edukasi pengolahan kopi yang baik dan benar, Pak Ansar sendiri mengaku sudah beberapa kali melakukan studi banding ke luar daerah seperti ke Toraja, Bali dan Lampung untuk melihat dan belajar pengolahan kopi di daerah lain. Dari penuturannya kami tahu bahwa perjalanan ini  difasilitasi oleh SCF dan juga  Pemerintah Daerah setempat.

Setelah berbincang dengan Pak Ansar, kami menghampiri Pak Pupa yang sedang duduk tidak jauh dari rumah Kepala Dusun. Pria 40 tahun ini juga memiliki lahan kopi seperti Pak Ansar. Selain bertani kopi, Pak Pupa juga beternak Sapi dan menanam tanaman lain. Ia mengaku tidak memiliki lahan kopi yang luas. Masa panen yang tidak bisa dilakukan sepanjang tahun juga menjadi alasan Pak Pupa tidak mengandalkan tanaman kopi sebagai sumber utama penghasilannya.

Pak Pupa bercerita tentang pertaniannya

Berniat mengobrol dengan seorang Ibu yang berada tidak jauh dari Pak Pupa, kami malah diajak masuk naik ke atas rumah panggung miliknya dan disuguhi dengan teh hangat. Ah, ramah sekali warga di sini. Untungnya saya tak khilaf meminta pisang goreng dan sambal tomat agar sekalian sarapan. Masih ingin mengobrol banyak, panggilan untuk kembali ke rumah pak Dusun menghentikan pembicaraan kami. Matahari mulai terik, perjalanan masih harus dilanjutkan ke Dusun Tabbuakkang.

Berinovasi Dalam Keterbatasan

Pak Marsan, ketua Kelompok Tani HKM Tabuakkang

Setelah mengisi energi dengan sarapan, kami menuju ke Dusun Tabbuakang tepatnya Tanjung Donggia, salah satu objek wisata yang menjadi andalan di Desa Kahayya. Oleh panitia kami dipertemukan dengan Pak Marsan, Ketua Kelompok Tani HKM Tabuakkang 1. Dari pria beranak tiga ini kami memperoleh banyak informasi tentang Desa Kahayya yang bersolek dan pesonanya sampai ke luar daerah.

Pak Marsan bercerita bagaimana dulu desa ini hanya diterangi beberapa listrik dari generator rumahan. Hal ini tentu menghambat aktifitas warga. Inisiasi untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) kemudian dilakukan pada tahun 2013 dengan referensi internet. Hingga saat ini, Desa Kahayya bukan lagi desa yang mati pada malam hari. Produktifitas petani menjadi meningkat dengan banyaknya hal yang bisa dilakukan dengan penerangan malam hari.

berbagai olahan makanan yang diproduksi oleh masyarakat lokal

Tidak hanya listrik, Desa Kahayya mampu menghasilkan berbagai produk olahan seperti kopi Kahayya yang dikemas layaknya kopi yang biasa ditemukan di kedai kopi kekinian yang ada di Makassar. Ada juga Keripik buncis yang bikin nongkrong jadi seru, serta minuman teh yang terbuat dari daun kopi atau dikenal dengan nama teh daun kopi. Semua produk ini dibuat sendiri oleh warga setempat dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di desa ini.

“SCF banyak berkontribusi terutama dengan pengolahan kopi Kahayya sendiri sehingga kami selaku masyarakat khususnya petani kopi sendiri sangat bersyukur dengan adanya program ini untuk memperkenalkan potensi desa khususnya kopi maupun potensi alamnya sendiri,” tutur Pak Ansar kepada kami.

Kolaborasi Lintas Sektor

Perubahan Kahayya dari sebelumnya daerah yang sulit diakses dan namanya yang tidak dikenal menjadi Desa Kahayya seperti sekarang tidak lepas dari peran berbagai pihak. Desa ini sekarang dicanangkan menjadi desa ekowisata dengan adanya master plan pengembangan wisata Desa Kahayya.

Pemerintah Daerah Bulukumba sendiri memastikan akan terus memacu potensi yang ada di Desa Kahayya melalui berbagai program dan pembangunan infrastruktur. Tahun 2018 Kahayya akan ‘dikeroyok’ oleh 16 SKPD. Hal ini sejalan dengan program pemerintah kabupaten yang mempunyai visi misi mengembangkan ekowisata terintegrasi antara pegunungan dan bahari. Pemerintah tentu berharap bahwa manfaat dari kemajuan yang terjadi di Desa Kahayya dirasakan oleh masayarkat Kahayya sendiri dan bukannya menjadi penonton.

Setelah berdiskusi dengan perwakilan pemda di kota Bulukumba, kami bertolak kembali ke Makassar. Membawa bungkusan kopi dan cerita yang tidak sabar ingin dibagi. Oh iya, sepertinya saya melewatkan sesuatu di Kahayya. Di Desa kecil ini, saya menyimpan setumpuk rindu agar kelak bisa kembali lagi ke desa ini.

 

 

 

Sumber data:

Profil Desa Kahayya

Mongabay.co.id

Wawancara

Wikipedia

10 Comment

  1. Eka says: Reply

    Wah, tulisannya sangat bermanfaat dan menambah informasi tentang Desa Kahayya. Dari tulisan ini, saya salut. Walaupun tinggal di desa yang cukup jauh dari kota namun pemikiran warga dari Desa Kahayya tentang pendidikan untuk anak-anaknya sangat menginspirasi. Saya juga jadi penasaran rasa kopi kahayya seenak gimana yah? Hehehe

  2. Irlan says: Reply

    Awesome, long life Kahayya

  3. Atik muttaqin says: Reply

    Ulasan yang mantap

  4. Ulasan yg mantap

  5. Raraa says: Reply

    Saya penasaran kelanjutan kisah hidupnya Karaeng-Puang itu. Hohoho. Anyway, tulisannya Kak Ifa juara deh!

  6. Saya langsung senyum di bagian Ifa nyebut jalan ekstrim. Tiba-tiba ingat momen mendebarkan di atas mobil sambil ngerengek2 minta turun dan jalan saja. Haha. Suka tulisannya, padat, berisi. Kapan-kapaj ke Kahayya bareng lagi, yuk! 😆😊

  7. sidik says: Reply

    info dong, akses kesana lewat mana? pake kendaraan apa???

  8. wuah saya aja baru dengar namanya
    apalagi ngunjungin tempatnyaa..
    salut buat ifa dan blogger sulse lainnya yang mereview desa ini
    bikin kita jadi tau kalau ada tempat yg seindah ini
    infografisnya kerenn ifaa. :?*

  9. Wah desa yang cantik diceritakan dengan cara yang apik sekali. Salut ya sama warga desa Kahayya yang tidak menyerah pada keterbatasan, segala bikin pembangkit listrik dengan referensi dari internet. Benar-benar warga yang proaktif. Terima kasih buat LSM dan Dompet Dhuafa yang telah membantu 🙂

    Semoga suatu hari bisa ke sana dan mencoba Teh Daun Kopi langsung, penasaran hihi.

  10. Imran Thahir says: Reply

    Nama desa ini Kayayya akrab di telinga saya semasa kanak2 namun hingga sekarang belum pernah sekalipun kesampaian mengunjungi desa kahayya. Ibu saya ketika balita pernah “diamankan” oleh kerabatnya di desa ini pada jaman pergolakan pasca proklamasi kemerdekaan. Semoga suatu saat bisa nyampe ke tempat ini

Leave a Reply