Cerita Foto: Nanti Kita Cerita Tentang Transportasi

Tinggal di Kabupaten Gowa dan banyak beraktifitas di Kota Makassar membuat saya harus menikmati setiap perjalanan dengan hati lapang dan ikhlas jika tidak ingin menua di jalan. Untungnya saya suka mengamati orang-orang yang ada di jalan jadi bisa membunuh kantuk atau rasa lelah.

Tahun ini genap 10 tahun tinggal di kota dan sekitar tiga tahun berstatus warga Gowa. Waktu yang cukup lama untuk bisa bilang kalau setiap tahun jalanan di sini memang semakin macet. Kendaraan semakin banyak jadi jalan-jalan dilebarkan alih-alih mencari solusi transportasi massal yang lebih ramah lingkungan.

Saya sendiri masih naik motor karena memang itu adalah opsi paling murah dan efisien untuk saat ini. Memang sudah ada kendaraan berbasis online yang terjangkau dan aman. Tetapi sebenarnya ini bukan solusi karena justru menambah jumlah kendaraan yang berkontribusi pada pemanasan global. Ckckckc, berat kali pembahasan ini.

Untuk menghindari macet dan memangkas waktu perjalanan, biasanya saya menggunakan jalan alternatif yaitu dengan menyebrangi sungai. Penyebrangan ini memungkinkan saya tiba lebih cepat meski secara teknis jauh dari kata aman.

Tempat penyeberangan ini sebenarnya sudah lama kutahu tapi baru benar-benar kucoba di tahun 2018 silam. Setiap hari sebanyak 4 perahu beroperasi hampir non stop hingga malam untuk mengangkut pengendara motor dari arah Makassar ke Taeng Gowa atau sebaliknya.

Waktu paling sibuk adalah pagi hari saat berangkat bekerja sekitar jam 7-9 dan sore hari sekitar jam 4-6 sore. Sebanyak 12-14 motor bisa diangkut oleh perahu katinting ini. Alat angkut yang kusebut perahu ini sebenarnya adalah dua perahu yang disatukan dan diberi papan di atasnya agar muat manusia dan kendaraan. Untuk menggerakkan perahu digunakan satu dinamo. Sementara itu ada satu orang pengelola perahu yang dengan sigap mengarahkan perahu hanya dengan sebatang bambu panjang. sungguh butuh keahlian khusus dan kreatifitas untuk bisa bekerja di bidang ini hehe.

Jika sudah tiba di seberang, untuk menghentikan laju perahu dua orang pengelola perahu akan mengaitkan tali pada tiang di dermaga. Mereka menariknya dengan keras hingga perahu berhenti dengan sempurna dan motor bisa dengan aman keluar. Biasanya saya selalu mengucap hamdalah, memacu sepeda motor setelah sebelumnya menyerahkan uang sebesar dua ribu rupiah kepada pengelola perahu.

Memilih mode transportasi perahu sebenarnya butuh keberanian. Ada banyak cerita mengerikan tentang perahu yang tenggelam karena kelebihan muatan. Kejadiannya sekitar setahun lalu ketika musim penghujan. Beberapa orang bahkan dilaporkan meninggal.

Meski demikian pekanggan transportasi satu ini tak pernah berkurang, mungkin karena hidup memang harus terus dilanjutkan. Selain rapal doa yang diperpanjang tentu harapannya semoga ada solusi kemacetan untuk kita warga Gowa dan Makassar.


2 Comment

  1. Wina Kurnia Syam says: Reply

    Baru baca tulisan ini. Saya juga baru sekitar sembilan bunalanan menggunakan transportasi ini dan sangat membantu walau harus “dumbats-dumbats” 😅

    1. arifayani says: Reply

      yang paling penting jangan lewat sini kalau musim hujan kak

Leave a Reply