Cheklist Kehidupan

Tahun ini saya menginjak usia 25 tahun (ini informasi penting +_+), usia yang kata orang adalah quarter life crisis dan disebut juga sebagai usia yang sakral. Wikipedia bahkan mendefenisikannya sebagai berikut

“The quarterlife crisis is a period of life ranging from twenties to thirties, in which a person begins to feel doubtful about their own lives, brought on by the stress of becoming an adult.”

Apakah saya mengalami defenisi seperti yang dikatakan wikipedia? jawabannya adalah… eeeng iii eeeng, betul sekali! Tapi saya mengalaminya setahun belakangan. Jadi boleh dikata quarter life crisisku datang lebih cepat setahun dari seharusnya, jika merujuk pada defenisi wikipedia.

Saya sempat putus asa dan memutuskan berhenti mencoba. Bisikan-bisikan seperti “ah, kamu semakin tua Ifa, berhenti saja” atau “sudahlah, cari pasangan hidup sanah! lihat itu kawan-kawanmu sudah menikah satu per satu”, bersahut-sahutan dalam pikiran. Keinginan untuk kuliah S2 ke luar negeri terasa semakin memudar seiring bertambahnya usia. Oh iya, kembali bersekolah dan mendapat beasiswa adalah hal yang ingin saya lakukan sejak bertahun-tahun lalu, tetapi hingga tulisan ini diposting saya masih berada di bawah langit Gowa. Tidak pernah meninggalkan Indonesia satu kali pun. Hanya melihat semakin banyak teman yang berhasil mendapat beasiswa dan satu persatu meninggalkan tanah air.

Awal tahun ini, ketika sedang berselancar di internet, saya bertemu video perempuan yang sedang menempuh S1 di Jerman. Namanya Gita Savitri. Konten videonya sederhana tapi beberapa kali saya mengalami momen ‘ngejleb’ saat menonton videonya, terutama untuk video ‘beropini’. Alasan-alasan kuliah ke luar negeri hingga perubahan yang Gita rasakan semenjak menjalani kehidupan jauh dari Indonesia membuat semangat saya untuk mengejar beasiswa tiba-tiba tersulut kembali. Lebay? hahaha, saya pun terheran-heran bagaimana sebuah video bisa merubah pola pikir saya yang saat itu sedang dalam crisis.

Akhirnya saya memutuskan belajar bahasa Inggris lagi. Ini penting sebagai syarat masuk perguruan tinggi dan untuk memenuhi persyaratan pemberi beasiswa. Saya mengambil kursus IELTS selama beberapa pekan dan tidak mengalami kemajuan berarti. Pada ujian prediksi nilai saya tidak melebihi angka 6. Hasilnya mengecewakan namun sudah bisa kutebak. Saya tahu tak bisa banyak belajar sembari fokus dengan pekerjaan kantor yang saat itu banyak deadline.

Setelah kursus IELTS, saya memutuskan mengambil tes TOEFL. Perbedaan kedua tes ini sangat berbeda, baik dari segi bentuk tes hingga biaya. Satu kali tes IELTS bisa seharga enam kali tes TOEFL ITP. Saya tentu tak mau mengambil resiko tes IELTS yang belum tentu bisa mendapatkan skor 6,5.

Hasil tes TOEFL saya tidak terlalu mengecawakan sehingga masih bisa mendaftar beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) yang setiap tahun pendaftarannya biasa di buka pada awal Februari dan tutup di akhir April. Tahun ini saya memberanikan diri untuk melengkapi administrasi dan mengisi formulir AAS secara online. Sekarang tinggal menunggu pengumuman shorlisted yang katanya akan keluar sekitar bulan Juli atau Agustus. Doakan saya ya πŸ˜€

Dari sekian banyak hal di dunia ini yang belum saya lakukan, kuliah ke luar negeri ini mungkin berada di urutan ketiga. Urutan pertama dan kedua akan saya tuliskan di lain waktu. Sekian curhat berkedok tantangan menulis ini selesai. Beberapa teman blogger juga menuliskan beberapa hal yang belum mereka lakukan. Baca tulisan-tulisan mereka yuk πŸ˜‰

1. http://adlienerz.com/paralayang-gunung-banyak-malang-yang-tak-jadi/
2. https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/11/pulau-pulau-sebelah-yang-belum-saya-datangi/
3. https://cecein.wordpress.com/2017/06/11/daftar-sempat-yang-tertunda/
4. http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/hal-yang-belum-bisa-saya-lakukan.html?m=1
5. https://mujahidzulfadli.wordpress.com/2017/06/11/ajari-saya-memasak/
6. http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/rumah-kertas-dan-obsesi-yang-belum.html?m=1

 

 

Cheklist Kehidupan

6 thoughts on “Cheklist Kehidupan

    • 12 June, 2017 at 11:47 AM
      Permalink

      Aamiin aamiin. Terima kasih kak Adlien :*

      Reply
  • 12 June, 2017 at 1:52 AM
    Permalink

    Aminnn…semoga akhirnya kuliah di luar negeri bisa dijalani
    coba cari beasiswa yang tidak mengharuskan penguasaan bahasa Inggris, cukup dengan bahasa Bugis misalnya. yakin ka pasti lolos ko Ifa

    Reply
    • 12 June, 2017 at 11:49 AM
      Permalink

      Awweee hahahaha, kalau ada tes bahasa bugis mungkin namanya jadi Test of Buginese as a Foreign Language (TOBFL) πŸ˜€

      Reply
  • 12 June, 2017 at 9:54 PM
    Permalink

    wahhh luar biasaa ifaaa.. semangadd terus yaaa,
    anyway soal jodoh .. tenang, dia menunggu selama ifa sibuk2 dgn kualitas diri kok, ahahhahay

    Reply
    • 13 June, 2017 at 9:28 AM
      Permalink

      Hihihiy, Aaamiin kaak. Doakan yaa ^^

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *