Cinta Pertama Yang Sudah Tua

Sudah hampir jam 12 malam lebih ketika saya tiba di rumah. Kepala saya masih pening dengan berbagai kejadian hari ini. Laki-laki yang kupanggil Etta harus masuk rumah sakit karena terserang stroke. Tangan kanan dan kakinya kaku dan hanya bisa digerakkan sedikit saja. Kata dokter, Etta terserang stoke ringan dan harus dirawat untuk beberapa hari ke depan. Welcome back kehidupan rumah sakit. Rasanya baru kemarin saja Ibu meninggalkan bangunan kaku berwarna putih tempat orang-orang menaruh harapan atau sebaliknya ini, melepas dan mengikhlaskan. Saya memilih menaruh harapan pada tempat ini dan berdoa semoga menjadi jalan Etta bisa kembali pulih seperti sedia kala.

Etta adalah laki-laki dengan senyum yang manis dan berhati lembut. Ia laki-laki pertama tempatku jatuh hati tentunya. Masih teringat betul waktu kecil dulu ketika kami, anak-anaknya, tertidur di depan tivi. Ia yang akan mengangkat kami satu persatu masuk ke dalam kamar. Sering juga ia memakaikan selimut atau membakarkan obat nyamuk untuk kami yang tengah terlelap. Tindakan-tindakan kecilnya itu entah mengapa baru saat ini saya sadari betapa berarti dan romantisnya.

Jika sekarang saya bisa ke sana ke mari dengan sepeda motor, maka Etta adalah orang pertama yang harus saya ucapkan terima kasih untuk jasanya mengajariku berkendara. Lapangan sepak bola yang terletak di samping rumah menjadi lokasi saya belajar mengatur kecepatan gas dan juga berhenti. Terhitung beberapa kali saya mengalami insiden ‘terbang’ karena tidak mampu mengendalikan motor atau jatuh ‘bodoh’ saat mengerem. Etta ada di sana. Membimbing, mengarahkan dan juga memearahi saya yang progress belajarnya terlalu lambat.

Etta tidak hanya membuat kami anak-anaknya jatuh hati, tapi beberapa kali juga Ia membuat saya patah hati. Kejadian paling membekas adalah ketika saya diberi tugas kelompok menggambar proses metamorphosis hewan di atas karton manila berwarna putih. Gambar tersebut nantinya akan diberi nilai dan dipajang di dalam kelas. Karena tahu Etta pandai menggambar, saya memintanya menggambarkan metamorphosis katak. Saya membujuknya berhari-hari sampai menangis tapi Ia tidak bergeming. Saat itu saya merasa sangat sakit hati dan memutuskan menggambar sendiri katak dengan mencontek buku pelajaran IPA. Hasilnya ternyata cukup bagus dan mendapatkan banyak pujian namun saya menyimpan rasa sakit hati pada Etta. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan kejadian ini masih terus saya ingat hingga hari ini.

Sebelum sakit, Etta adalah perokok aktif yang bisa mengkonsumsi hingga 4 batang rokok per harinya. Kebiasaan ini tentu saja ditentang oleh anak-anaknya termasuk saya.  Alasan kesehatan menjadi penyebab utama kami tidak suka Etta merokok. Namun tiap kali ditegur, Atta hanya akan tertawa kecil sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.

Sekarang laki-laki yang kupanggil Etta ini semakin menua ditandai dengan rumbut putihnya yang semakin banyak. Jika tidak dibantu kacamata, tulisan-tulisan yang Ia baca akan terlihat kabur. Satu hal yang saya tahu tidak menua darinya adalah cinta pada anak-anaknya yang juga semakin menua. Berulang kali Etta mengungkapkan harapan-harapannya pada kami yang selalu saja kami jawab,”doakan saja kami, Etta“.

Nb: Ditulis sepulang dari rumah sakit.

Etta/Atta : Panggilan untuk bapak/orang tua laki-laki bagi suku Bugis/Makassar

Tulisan ini adalah bagian dari #15haritantanganmenulis. Baca tulisan teman-teman blogger yang lain yuk. Mereka juga menuliskan cinta pertama mereka di tautan berikut :

1. https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/15/cinta-pertama-perempuan-dayak-agabag/
2. http://matamatamakna.blogspot.co.id/2017/06/kiran-dan-maran.html?m=1
3. http://adlienerz.com/ayah-cinta-pertama-anak-perempuannya/

 

 

Cinta Pertama Yang Sudah Tua

2 thoughts on “Cinta Pertama Yang Sudah Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *