COCO ; Animasi Tentang Kematian

Bagaimana kehidupan setelah kita mati? Sebagai muslim tentu kita percaya dengan konsep kehidupan setelah kematian. Alam akhirat digambarkan dalam banyak ayat dan tutur Rasul saw. Mengimani adanya surga dan neraka juga salah satu hal yang tidak terpisahkan dari ajaran Islam.

Lalu bagaimana tradisi atau agama lain memandang kehidupan setelah mati? Film animasi disney yang terbaru mungkin bisa menjawabnya. Dirilis pada bulan November tahun 2017 ini, animasi berjudul COCO berhasil meraup jutaan dolar keuntungan box office. Animasi ini menuai berbagai pujian dan review positif dari penonton. Tidak mengherankan jika hingga tulisan ini tayang, COCO masih menempati posisi pertama film box office dan mendapat rate 4,7/5 di situs rotten tometoes.

Saya sendiri tidak menyesal menonton COCO. Setelah mengusap air mata pada adegan Miguel bernyanyi untuk mama Coco yang mulai kehilangan memori tentang ayahnya, saya kembali tersenyum puas. Di awal animasi ini diputar, ekspektasi akan cerita sedih dan air mata yang mengalir di sepanjang cerita ternyata tidak saya temui. Namun di sini justru kekuatan cerita dari COCO yang bisa membius penonton untuk hanyut dalam alurnya. Well, film bagus tidak selalu diukur dari banyaknya air mata yang tumpah ruah, bukan?

Jika kematian biasanya menjadi pelengkap untuk menambah efek sedih pada sebuah film animasi, COCO justru sebaliknya. Kematian menjadi point utama film ini tanpa mengesampingkan nilai-nilai kerja keras, kejujuran dan pentingnya bersungguh-sungguh untuk meraih mimpi, tipikal film animasi disney dan pixar.

Dunia setelah kematian dalam film COCO disajikan dengan warna warni ceria sebuah alam barzah. Berlatar di Meksiko beserta festival kematian atau biasa disebut Día de Los Muertos, film ini membuka pandangan akan keberagaman tradisi dunia tentang kematian. Mata penonton dihibur dengan tengkorak berpakaian segala rupa dengan kehidupan yang hampir mirip dengan dunia nyata.

Di dunia kematian versi COCO ada juga kesenjangan sosial seperti pada adegan Miguel mencari gitar di daerah ‘pinggiran’ bersama Hector, pria asing yang sangat ingin menyebrang jembatan kematian namun tidak bisa karena tak ada satu orang pun yang memasang fotonya di altar. Daerah kumuh yang mereka datangi berisi orang-orang yang hampir terlupakan di dunia. Orang-orang dalam dunia kematian ini bahkan bisa menghilang dari dunia kematian jika di dunia nyata tidak ada seorang pun yang mengenang mereka. Yang berbeda, orang-orang yang berada pada daerah kumuh ini bukan yang tidak punya harta tapi orang-orang yang terlupakan di dunia. Saya melihat adegan ini sebagai upaya memberitahu penonton akan pentingnya meninggalkan kebaikan-kebaikan di dunia nyata.

Menonton COCO bisa membuka ruang diskusi tentang kematian yang seringkali identik dengan kesedihan, sakral dan bukan hal menyenangkan untuk diperbincangan. Terlebih dengan anak-anak yang juga menjadi target penonton COCO. Namun dengan latar tradisi kematian Día de Los Muertos, animasi ini berhasil membuat saya melihat kematian lewat perspektif masyarakat Meksiko dan sajian animasi yang menghibur.

COCO ; Animasi Tentang Kematian

7 thoughts on “COCO ; Animasi Tentang Kematian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *