Halo Digital Natives

 “Ama Ipa, Ama Ipa, cayikanka dulu lagu di yutub”

Saya masih ingat betul ketika seorang ponakan balita di masa awal ia berinteraksi dengan teknologi berupa smartphone. Ibu dari anak ini adalah sepupu sekaligus tetangga di lingkungan tempat tinggal saya sekarang. Setiap kali berkunjung ke rumahnya, ponakan ini akan melompat dan berteriak girang. Setelah itu, mulailah ia pamerkan satu per satu mainan baru yang ia punya. Setelah bosan dengan mainan biasanya ia akan meminta smartphone Bundanya. Memamerkan foto, video hingga mengutak atik menu di dalam hape.

Pengalaman berinteraksi dengan ponakan dan beberapa adik sepupu, di masa awal mengenal gadget mereka biasanya akan banyak bertanya. Ada juga yang diam namun ternyata mengamati setiap kali kita orang dewasa memainkan smartphone. Anak-anak ini melihat dan menghapal pola perilaku kita terhadap gadget.

Jangan heran jika mereka tiba-tiba bisa mengunduh game di playstore, memutar youtube, memotret, hingga ada yang ikut mengirim emoticon atau huruf di chat social media milik orang tua mereka. Anak-anak ini lahir sebagai digital native, istilah yang dipopulerkan oleh konsultan edukasi bernama Marc Prensky dalam artikelnya yang berjudul Digital Natives, Digital Immigrants.

Berbeda dengan kita orang dewasa yang mengenal gadget ketika memasuki dunia sekolah atau berinteraksi dengan perkotaan, anak-anak yang dijuluki digital natives ini lahir, tumbuh dan besar dikelilingi oleh teknologi yang sudah canggih. Jika dulu kita belajar warna dengan krayon atau pensil warna, mereka belajar warna lewat tab atau smartphone.  Prensky menyebutnya sebagai native speaker of the digital language of computers, video games and the internet.

Lalu tantangan datang kepada orang tua dengan anak-anak yang belajar super cepat dengan teknologi. Ada yang berusaha mengimbangi dengan tetap bisa update, ada juga yang terengah-engah mengejar ketertinggalan akan teknologi dibanding anak mereka sendiri.

Dengan anak-anak yang digital native beberapa beranggapan hal tersebut memberikan pengaruh negative terhadap tumbuh kembang anak. Antisosial, kecanduan hingga bahaya radiasi menjadi pembahasan dalam berbagai artikel terkait gadget dan parenting.  Ada yang betul-betul menjauhkan anak dari gadget, ada yang memberikan gadget tapi tetap mengawasi, ada juga yang betul hanya memberikan fasilitas teknologi agar anaknya tidak tertinggal dibanding teman-temannya yang lain.

Tantangan orang tua jaman sekarang menjadi berkali lipat dalam mendidik anak. Lingkungan yang berubah membuat orang tua harus bisa beradaptasi san menjadi ‘rumah’ bagi anak-anak. Rumah untuk beristirahat, juga untuk melindungi dari bahaya yang ada di luar.

Sebagai rumah, pengetahuan mengenai parenting di era digital bisa membuat orang tua lebih kokoh dalam mendidik anak. Mengetahui usia yang tepat untuk mengenalkan gadget serta apa saja yang harus diperkenalkan sehingga tidak ada lagi perdebatan tentang apakah gadget penting untuk anak? Tetapi ikut belajar menjadi native dengan status orang tua Immigrants (meminjam istilah Prensky).

Meskipun dalam tulisannya Prensky menyinggung soal pentingnya pendidik untuk melek teknologi, tulisan tersebut tentu masih relevan juga untuk orang tua. Ia menyebutkan “So if digital immigrants educators want to reach digital natives-i.e. all their students- they will have to change. It’s high time for them to stop grousing, and as the Nike motto of the digital native generation says, “just do it!” they will succeed in the long run – and their succeed will come that much sooner if their administrators support them”.

 

 

 

7 Comment

  1. as always, keren kak ifaaa.

    1. arifayani says: Reply

      Terima kasih Tari 😆

  2. Saya sedang berusaha supaya anakku ga kecanduan main hp..untungnya doi masih nurut ji sama kata2ku 😀 tulisan yang keren, btw…

    1. arifayani says: Reply

      Terima kasih kak 😊

  3. Suka tulisan ini 👍

    1. arifayani says: Reply

      Thank’s kak Abby

  4. Tantangan bagi siapapun tuk bijak dalam pemberian dan pendampingan gadget pada anak-anak. Apakah anak sendiri, atau saudara. Merekalah penghuni dunia internet yang sesungguhnya. Btw, siapmi ini Ifa punya anak. Ayo nikah. #eh

Leave a Reply