Highlight Bulan Pertama di New Zealand : Beradaptasi

 

Keluar dari bandara Auckland, saya menghirup udara musim dingin lalu memasukkan tangan ke kantong jaket dengan cepat. It’s winter! Kami disambut langit Auckland yang cerah dihiasi awan putih  panjang. Welcome to the land of the white long cloud! Ini adalah julukan untuk New Zealand yang dalam bahasa Maori disebut Aotearoa. Sambil mendorong koper yang beratnya lumayan, kami berjalan menuju tempat parkir. Takjub dengan udara dan pemandangan 😀 *padahal masih di parkiran. Masih setengah tidak percaya, saya sekarang menapakkan kaki di negeri yang dulunya hanya bisa kulihat di tv dan internet.

Parkiran 😀

Sebelum berangkat, kami telah diberitahu tentang kondisi cuaca di New Zealand. Atas saran seorang teman blogger yang sering ke luar negeri, saya akhirnya membeli beberapa baju musim dingin di store uniqlo yang baru saja buka di Makassar. Beberapa baju dengan label heattech ini sangat bermanfaat karena bisa menghalau udara musim dingin yang menusuk. Permukaan baju yang lembut dan berbulu memberikan sensasi hangat di kulit. Ini bukan sponsored pos ya. Ini murni testimoni pelanggan  😀

Sebenarnya jika dibandingkan dengan dengara winter di negara 4 musim lainnya, winter di New Zealand khususnya di Auckland masih tergolong nyaman karena suhunya masih berada di kisaran satu digit hingga belasan derajat. Artinya kamu tidak bisa menemukan salju di sini kecuali di snow world indoor atau di beberapa daerah yang membutuhkan perjalanan berjam-jam. Jadi selama punya jaket winter yang nyaman dan kaos kaki tebal, itu sudah cukup. Untuk urusan cuaca dingin, saya sendiri tergolong sangat mudah beradaptasi *kibas jilbab

Fyi, New Zealand itu terdiri dari dua pulau besar yaitu pulau bagian utara dan pulau bagian selatan. Saya tinggal di pulau bagian utara tepatnya di Hobsonville, Auckland. Daerah tempat tinggal saya ini tergolong jauh dari perkotaan sehingga membuat saya membutuhkan cukup banyak waktu untuk tiba di kampus yang berada di bagian kota atau disebut juga Central Business Development (CBD) Auckland.

Setiap hari Senin sampai Jumat, jam 6.30 saya sudah harus berangkat mengejar ferry di dermaga Hobsonville yang jaraknya 10 menit berjalan kaki dari rumah. Tiba di downtown ferry terminal setelah 25 menit di atas ferry, saya harus berjalan kaki lagi selama 20 menit untuk bisa mencapai kampus. Karena terbiasa menggunakan motor saat di Makassar, kakiku shock dihadapkan dengan kenyataan harus berjalan kaki satu jam setiap harinya.

Sebenarnya saya sangat menikmati berjalan kaki di sini karena udara yang segar dan terotoar yang nyaman. Tetapi apa daya, minggu kedua saya harus menemui dokter dokter karena lututku yang semakin nyeri sehingga sulit untuk melalui jalan menurun atau tangga. Dokternya tertawa karena di hari saya menemuinya, ada beberapa pasien yang mengalami keluhan yang sama. “It will recover naturally” katanya.  Saya lega karena sebelumnya cukup khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa saya jika tidak segera konsultasi ke dokter. Hahah

Selain cuaca dan jalan kaki, mendatangi negara minoritas muslim tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama jika tiba waktu shalat. Beruntung ada masjid di bawah gedung tempat saya belajar sehingga perkara shalat bukan jadi masalah. Teknologi pada gawai juga sangat memudahkan untuk mengetahui waktu shalat dan arah kiblat.

Masih tersisa 5 bulan di New Zealand dan akan ada banyak cerita dan pengalaman yang saya tulis di blog ini. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah menagih update tulisan terbaru. Doakan saya istiqamah ya 😀

 

 

 

2 Comment

  1. Nice article.
    Aoa yg jdi kesan utama ktika mnjumpai winter?

    1. arifayani says: Reply

      Dingin, mba. Hahaha
      Kupikir syal itu untuk gaya-gayaan, ternyata memang ampuh menghalau udara dingin 😀

Leave a Reply