Kenangan di Bumi Massenrempulu

“Kamu orang Enrekang? Wahh banyak sayurnya”

Lahir dan besar di Enrekang membuat daerah ini menyisakan banyak kenangan. Kabupaten yang berjarak kurang lebih 250 Km dari Kota Makassar ini selalu mengingatkan saya akan banyak hal, mulai dari keramahan orang-orangnya hingga makanannya. Komentar seperti di atas sudah sering daya dapati jika memperkenalkan diri dan memperkenalkan asal daerah. Setelahnya saya akan sibuk menjelaskan tentang bentang alam Enrekang yang berbeda-beda dan lokasi kampung saya yang jauh dari daerah yang terkenal dengan sayurannya yang segar.

Gaung kabupaten Enrekang beberapa kali terdengar dan masuk ke situs-situs wisata dan TV nasional. Yang beberapa kali terdengar mungkin cerita nikmatnya dangke, makanan berbahan baku susu yang disebut-sebut sebagai keju asli Indonesia. Makanan ini juga beberapa kali saya bawa ke Makassar untuk diperkenalkan pada teman-teman daerah lain.

Selain dangke, daun kelor atau biasa dikenal dengan nama ‘utan loro’ menjadi makanan yang sering membuat rindu Enrekang. Saking populernya, tanaman ini tumbuh hampir di semua pekarangan orang-orang di kampung. Utan loro bisa diolah dengan cara dimasak dengan kacang panjang atau terong. Bisa juga dimasak dengan parutan kelapa dan dinikmati dengan ikan kering yang telah diberi perasan jeruk nipis dan cabe rawit. Daun kelor ini juga memiliki banyak mitos. Salah satu yang paling populer adalah mitos orang jawa yang tidak bisa makan daun kelor karena bisa meluruhkan ‘ilmu’ mereka. Apapun mitosnya, saya akan tetap cinta utan loro ๐Ÿ˜€

Selain makanan, nama bukit cekong pernah terdengar ramai di media sosial karena foto-fotonya yang eksotis. Destinasi yang menjadi tempat memicu adrenalin ini menjadi lokasi syuting salah satu acara jalan-jalan yang lagi hits. Melihat foto-foto kampung halaman yang berseliweran di media sosial seperti ini membuat rasa rindu dan bangga akan kampung halaman semakin membuncah.

Dengan bentang alam pegunungan, Kabupaten Enrekang menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang tidak mempunyai daerah pesisir atau pantai. Seperti julukannya, bumi massenrempulu yang artinya menyusur gunung. Hal ini membuat saya terlambat mengenal pantai dan air laut. Baru ketika liburan sekolah, salah satu tante yang berkuliah di Makassar mengajak saya dan kakak berlibur di Makassar dan mengunjungi salah satu pantai di sana. Seingat saya, saat itu pantai-pantai di Makassar masih sangat bersih. Kenangan meninggalkan kampung halaman untuk berlibur ke Makassar dulu sering sekali saya tulis jika ada pelajaran mengarang di sekolah. Tidak lupa keindahan pantai dan asinnya air laut saya ceritakan juga kepada teman sekelas yang saat itu belum pernah melihat luasnya lautan.

“Kamu enak ada kampungmu. jadi bisa pulang kampung”

Seorang teman pernah bertutur soal keinginannya pulang kampung, membuat saya tidak pernah menyesal terlahir di sebuah desa kecil di Kabupaten Enrekang. Karena terbiasa dengan kehidupan kampung dan pulang kampung, hal ini terkadang tidak pernah disyukuri. Padahal ada juga orang-orang seperti teman saya ini yang mau punya kampung dan bosan dengan suasana perkotaan. Mempunyai kampung halaman dan mempunyai tempat untuk ‘pulang’ ternyata tidak bisa dinikmati oleh semua orang.

 

NB: Tulisan ini menjadi bagian dari tantangan #15harimenulis yang diadakan oleh beberapa teman blogger selama ramadan. Diposting saat sembari menikmati lagu-lagu yang mengalun dari radio mobil antar kabupaten yang mengantarkan ke Enrekang, bumi massenrempulu.

 

 

Kenangan di Bumi Massenrempulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *