Kenapa Bisa ke New Zealand?

 

Tulisan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan yang akan sering saya dapatkan, “Ifa, bikin apa ke New Zealand?” Karena membalas satu per satu pertanyaan di media sosial dengan jawaban yang sama tentu melelahkan, maka akan lebih menyenangkan (untuk saya tentunya) jika berbagai pertanyaan tersebut sudah disiapkan jawabannya, sehingga pada akhirnya saya hanya akan menjawab dengan kalimat “Baca tulisan di blogku saja ya” haha.

Beberapa bulan lalu, sebuah surel masuk ke alamat email sobat lemina. Isinya berupa informasi program shortcourse ke New Zealand. Program ini bernama Indonesia Young Leader Program (IYLP) atau disebut juga program INSPIRASI, singkatan dari Indonesia Selandia Baru Untuk Generasi Muda Inspiratif. Peserta yang lolos akan berkesempatan menyelami kehidupan sosial dan akademis  di New Zealand selama 6 bulan.

Dari informasi yang saya terima, program INSPIRASI sendiri adalah program bantuan yang dilaksanakan oleh UnionAID dengan dukungan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia dan  New Zealand Ministry of Foreign Affairs and Trade (MFAT). Para pemuda di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Sulawesi diundang untuk mengirimkan aplikasi dan mengikuti proses seleksi.

Sementara itu, program INSPIRASI tidak hanya dikelola oleh UnionAID tetapi juga bekerja sama dengan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Universitas Teknologi Auckland (AUT). Tujuan Program ini adalah membantu para pemimpin muda  dari Indonesia Timur untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kepercayaan diri mereka sehingga mereka dapat menjadi pemimpin dalam pembangunan berkelanjutan di masyarakat dan wilayah Indonesia Timur yang lebih luas.

Hal menarik dari program ini adalah karena tidak dibuka secara umum, peserta yang mendaftar hanya berasal dari CSO atau NGO yang diundang melalui surel oleh pihak Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesai (BaKTI). Kabar baiknya,  program INSPIRASI tidak menuntut nilai toefl yang tinggi atau skor IELTS yang untuk tesnya sendiri mencapai angka jutaan rupiah. Bisa dikatakan, persyaratan yang diminta beasiswa ini betul-betul memudahkan para pelamar.

Dengan bersemangat saya segera membaca semua persyaratan yang dibutuhkan dan menimbang-nimbang apakah akan mendaftar atau tidak, mengingat saat itu saya juga sedang mengincar beasiswa Australia Awards Scholarship yang terkenal sangat kompetitif itu. Di saat seperti ini saya  ingat kata seorang teman yang selalu mengajak untuk mencoba segala kesempatan. Belum tentu lolos, kan? tapi paling tidak, kamu tidak akan menyesal karena tidak mencoba sama sekali. Memilih adalah urusan belakangan, coba saja dulu. Begitu kira-kira petuahnya. Akhirnya, pengisian aplikasi program INSPIRASI saya selesaikan beberapa hari sebelum tenggat waktu.  Paspor, sertifikat toefl dan surat rekomendasi sudah saya kantongi.  Setelah proses ini selesai, saya tidak terlalu banyak memikirkan hasil akhirnya. Toh, beberapa kali ditolak beasiswa sudah sering saya alami hahaha.

Pengumuan Shortlisted

Tanggal 19 Maret 2018, sebuah surel pemberitahuan lolos shortlisted masuk ke email saya. Masih teringat hari itu saya sedang mampir di salah satu ATM di sekitaran jalan Lanto Dg Passewang ketika email pengumuman ini datang. Bukan main girangnya saat membaca email itu. Meski baru tapahan shortlisted rasanya semakin dekat saja dengan New Zealand. Jika tidak memakai masker penutup mulut saat berkendara, mungkin orang-orang akan mengira saya tak waras karena sepanjang perjalanan setelah menerima email tersebut, saya tidak henti tersenyum dan mengucap syukur.

Hari senyum-senyum bahagaia berakhir, terbitlah perasaan cemas mengenai proses wawancara. Saya mencoba melakukan riset di internet mengenai kecendrungan pertanyaan yang akan muncul selama proses wawancara beasiswa dan jawabannya sungguh beragam. Saya lebih banyak membuka youtube dan melihat beberapa video wawancara yang dilakukan untuk menerima mahasiswa baru di Universitas Cambridge.

Hari yang ditunggu telah tiba, saya datang ke lokasi dengan harapan segala prosesnya berjalan dengan lancar karena hari itu tidak hanya ada wawancara tetapi  juga tes kelompok dan tes bahasa inggris tertulis. Saya peserta yang pertama kali hadir, diikuti dengan empat peserta lainnya, jadi total peserta yang wawancara hari pertama adalah 5 orang.

Dalam tes berkelompok, kami diminta membuat headline berita yang ingin kami lihat dalam beberapa tahun ke depan. Tulisan headline ini dibuat dari koran yang telah disediakan sebelumnya. Ada pula gunting, lem dan kertas tempat menempel hasil karya kami yang berasal dari potongan-potongan kata yang ditemukan di koran. Proses ini menyenangkan karena tidak ada satupun di antara kami yang saling kenal sebelumnya. Proses kerjasama berjalan natural dan berakhir dengan tiga buah headline. Saya tahu, sebenarnya bukan isi headline yang menjadi penilaian tetapi proses membuatannya mulai dari interaksi antar anggota kelompok hingga pengambilan keputusan juga menjadi pertimbangan. Sebagai catatan, dalam proses ini kami diminta berkomunikasi dalam bahasa inggris sebisanya.

Setelah tes kelompok dan rehat ishoma, hari itu dilanjutkan dengan tes tertulis berupa pilihan ganda yang menurut saya tidak begitu sulit jika dibandingkan dengan tes toefl apa lagi tes IELTS. Tujuan dari tes ini untuk mengukur kemampuan bahasa inggris peserta karena nantinya jika terpilih kami akan masuk ke dunia akademik dan memperoleh pembelajaran bahasa selama kurang lebih tiga bulan. Jika tidak punya dasar pemahaman bahasa inggris yang cukup, tentu akan kesulitan menghadapi dunia akademis di New Zealand kelak.

Tes tertulis selesai, tibalah saat yang paling mendebarkan, WAWANCARA. Setelah dua peserta lainnya selesai, giliran nama saya dipanggil menuju ruangan bercahaya temaram. Di depan saya duduk beberapa orang, Laila dan Michael yang berasal dari New Zealand, Ibu Mieke dari kedutaan New Zeland, Ibu Susan dan Ibu Sherly dari BaKTI.

Basa basi mengawali interview siang itu. Berbagai pertanyaan sederhana diajukan oleh mereka. Pertanyaan yang harusnya bisa saya jawab dengan tenang mengingat semua persiapan yang telah dilakukan. Tapi siang menjelang sore itu menjadi salah satu momen mendebarkan. Saya berbicara dengan terbata-bata. Kepercayaan diri berbicara bahasa Inggris tiba-tiba saja lenyap. Beberapa kali saya tersendat dan tak tahu harus berkata apa.

Hari itu diakhiri dengan dengan berbagai kecemasan. Tapi pada akhirnya saya bisa berdamai dengan diri sendiri dan menyerahkan hasilnya pada yang Maha Kuasa. Doa bisa membelokkan anak panah, bukan? saya terus merapal kalimat itu setiap kali pikiran buruk muncul.

Hari jumat pagi selepas melakukan aktifitas rutin, saya memegang gawai ketika masuk sebuah email kelulusan dari Laila. Rasanya tidak bisa diungkapkan lagi. Tangan saya gemetar sembari terus mengucap Alhamdulillah. New Zealand, I am coming!

 

 

2 Comment

  1. Ardan says: Reply

    Alhamdulillah kakak Ifaa ke New Zealand. Alhamdulillah juga pertanyaanku terjawab. Sukses dan sehat2ki selalu, Kak :’)

  2. Ilmi says: Reply

    ditunggu oleh2 tulisanx dari New Zealand, kak Ifa… 😄

Leave a Reply