Kurir Surat NBS

anak-anak, kartu pos dan perangko
anak-anak, kartu pos dan perangko

Langit kota Makassar sedang terisak saat saya melaju di atas aspal menuju salah  satu sekolah NBS. Bulir-bulir airnya jatuh membasahi kota yang beberapa hari ini cuacanya sulit ditebak. Teman saya duduk di boncengan tanpa mengenakan mantel. Laju motor saya percepat, berkejaran dengan hujn yang semakin berkurang.

Belum juga mematikan mesin motor matic yang saya kendarai saat ingin parkir di depan kelas, beberapa anak sudah  berlari-lari kecil menghampiri motor sambil memanggil nama saya dan teman saya. “Kak Ifa! Kak Ica!” sambil menarik tangan kanan kami untuk disalim.
Dingin karena ditimpa air hujan serta merta menjadi hangat. Anak-anak selalu membawa kebahagian tersendiri setiap kali datang ke sekolah ini. Senyum mereka tulus, mata mereka memancarkan kebahagiaan. Mereka punya energi yang menular.

Di dalam kelas, saya dikerumuni Naila dan beberapa temannya. Mereka berebutan berbicara, masing-masing ingin didengar. Ada yang menanyakan kakak relawan yang tidak datang, ada yang menanyakan undangan BBMyang belum diterima, dan ada yang menanyakan surat yang belum dibalas.

Beberapa minggu sebelumnya, mereka memang diajarkan untuk membuat surat dan menjalin sahabat pena dengan murid kelas 4 di kabupaten Gowa. Kami, para relawan NBS yang menjadi kurir surat mereka. Mayoritas mereka sangat antusias dan tidak berhenti menanyakan balasan surat yang sudah dinanti-nanti.

Membaca surat-surat anak-anak sungguh membawa keseruan tesendiri. Bahasa mereka yang sederhana dan polos membuat saya beberapa kali terpingkal-pingkal membaca kalimat demi kalimat yang mereka tulis. Sebut saja Asdar, anak kelas VB yang menulis seperti ini :

Assalamualaikum
Nama saya Asdar.
Tulisan kamu sangat jelek tetapi cerita kamu sangat bagus sekali biar jelek tetapi kamu punya cerita bagus sekali. Saya sekolah di SD……
Kemudian Asdar menutup suratnya dan berkata
Balaski cika’

Tawa saya pecah selesai membaca surat ini.

Tidak hanya anak SD yang saling berkirim surat dengan sesama anak SD.  Salah seorang anak kelas 5 bernama Ribka juga mengirim surat untuk beberapa relawan, salah satunya untuk saya. Isi suratnya lucu dan menggemaskan. Kalimatnya sederhana dan polos. Saya tidak berhenti senyum-senyum sendiri saat pertama kali membaca surat dari Ribka. Ada kebahagiaan kecil yang menjalar  ketika membaca setiap kalimat yang ia susun dalam suratnya.

Sabtu ini saya sempatkan juga menulis balasan surat dari Ribka dan membawanya ke sekolah. Tapi ternyata kami tidak berjodoh, Ribka sudah pulang. Surat tersebut akhirnya saya titipkan di salah satu anak kelas 4 untuk disampaikan kepadanya.

Ica yang datang hari ini juga membawa banyak kejutan untuk anak-anak dan juga saya. Ia memperlihatkan koleksi kartu posnya yang tidak sempat saya hitung jumlahnya. Saya takjub, bagai anak kecil bertanya benda apa dan bagaimana Ia mendapatkan kartu-kartu pos tersebut. Ia juga membawa puluhan prangko bergambar keindahan alam Indonesia. Semuanya Ia bagikan kepada anak-anak, termasuk saya.

Meskipun ini adalah pertemuan terakhir NBS, dalam hati saya sudah berjanji untuk datang ke sekolah ini sesekali. Mencari bahagia di sela-sela senyum ceria anak-anak ini. Semoga jika kalian sudah besar nanti dan menemukan tulisan ini, kalian mau tersenyum dan berucap “Ini kakak NBS”.


1 Comment

  1. saddam says: Reply

    Hahaha sumpah lucu dan menyentuh. Sudah lama sekali saya tidak berkunjung ke sini dan ternyata blogmu semakin rapi dan tulisanmu juga makin dewasa. Terlihat bagaimana kau memilih kata yg pas. I do like ifa, keep writing. Btw teach me how to make clear blog like this.

Leave a Reply