Mangrove Untuk Kehidupan

Keindahan pohon mangrove dilihat dari menara
Keindahan pohon mangrove dilihat dari menara

 

Itu (mangrove) yang saya tanam sekitar tahun 80an, sekarang tumbuhmi”, Pak Abu Nawar bertutur tentang pohon-pohon mangrove yang ada di Pulau Panikiang, Desa Madello, Kabupaten Barru. Saya bersyukur bisa bertemu dengan beliau dalam kegiatan edu trip yang dilakasanakan oleh Blueforests Indonesia, Sabtu, 23 Juli lalu.
Kegiatan yang dilaksanakan untuk memperingati International Mangrove Day ini memberikan kesempatan kepada peserta edutrip untuk melihat langsung ekosistem mangrove di salah satu pulau dengan tingkat keragaman pohon mangrove yang cukup tinggi. Tidak hanya itu, kami juga bisa berbincang langsung dengan penduduk pulau serta memahami lebih jauh tentang pentingnya kelangsungan hidup tanaman mangrove.

Pak Abu Nawar, Kepala Dusun Panikiang.
Pak Abu Nawar, Kepala Dusun Panikiang.

Pak Abu Nawar sendiri adalah kepala dusun di Pulau panikiang yang dihuni oleh sekitar 70 penduduk yang mayoritas bermatapencaharian sebagai nelayan. Belau lahir, tumbuh dan menghirup udara di pulau ini selama puluhan tahun. Udara yang sebahagian dihasilkan dari proses fotosintesis pohon-pohon mangrove di pulau Panikiang.
Dari penuturan Pak Abu Nawar, diketahui bahwa sudah beberapa kali ada penyuluhan tentang pemanfaatan hutan mangrove bagi warga dusun. “Adaji penyuluhan, tetapi orang tidak mau kerjai…”, beliau menjawab pertanyaan salah satu peserta edutrip yang antusias mengetahui pemanfaatan buah mangrove di Pulau Panikiang. Di daerah lain seperti di pulau Bali, buah mangrove juga bisa diolah menjadi minuman yang mempunyai daya jual. Jika manusia dan alam bisa saling memanfaatkan, kenapa tidak? Saya membatin.
Lain lagi cerita dari Bapak Kamaruddin Umar yang menghabiskan masa kecil di Pulau Panikiang. Bapak berusia 54 tahun ini dengan mata berbinar menceritakan lezatnya Ikan yang dulunya bisa ditemukan dengan mudah di aliran sungai di sekitar pohon Bakau. Bapak Kamaruddin sekarang menjabat sebagai kepala unit bina masyarakat polisi sektor Balusu.
Sebelum berbincang dengan warga Dusun Panikiang, rombongan edutrip dibagi menjadi beberapa kelompok beserta pendamping. Pembagian ini memungkinkan kami lebih maksimal mendapatkan informasi terkait sembari menyusuri hutan mangrove melewati jembatan kayu yang terbentang di sela-sela hutan mangrove. Jembatan ini dibuat oleh pemerintah kabupaten Barru pada tahun 2012 ini memungkinkan masyarakat sekitar atau pengunjung untuk menikmati keindahan hutan mangrove Pulau Panikiang.

2016_0723_12195700
Musnah sudah harapan saya untuk menanam mangrove. Kegiatan ini dalam rangka memperingati hari mangrove internasional, kan? Bukankah wajar jika ada acara menanam pohon mangrove secara berjamaah atau semacamnya? Pertanyaan-pertanyaan di benak saya terjawab saat panitia dari blueforests menjelaskan mengenai proses panjang penanam pohon mangrove yang tidak boleh serampangan. Ada survey, pengumpulan baseline data, pengamatan dan berbagai tindakan yang bisa memakan waktu hingga satu tahun. Jangan heran jika tingkat keberhasilan penanaman pohon di Indonesia hanya sekitar 10 persen saja. Hal tersebut disebabkan karena cara penanaman mangrove yang salah dan tidak melalui kajian yang tepat.
Dari sini pula saya tahu bahwa mangrove mempunyai berbagi jenis dan dibagi berdasarkan zonasinya. Ada jenis mangrove yang bisa hidup di lumpur atau jenis zonerasia. Ada pula jenis Rhizophora atau yang bisa hidup di pasir. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin, terdapat 29 jenis mangrove di pulau Panikiang. 17 diantaranya adalah adalah mangrove sejati, sementara 12 jenis mangrove lainnya adalah mangrove asosiasi.
Penjelasan tentang mangrove membuat saya begitu antusias. Untuk pertama kalinya saya melihat mangrove dari dekat dan menyentuh langsung daun pohon Excoceocaria Agallocha atau lebih dikenal dengan nama samputa oleh masyarakat lokal. Jenis mangrove ini salah satu jenis mangrove yang tidak memiliki akar udara dan getah yang bisa mengakibatkan kebutaan. Informasi tersebut saya dapatkan dari Zoe, mahasiswa asal California yang sedang melaksanakan penelitiannya di Indonesia dan bergabung dalam edutrip kali ini.
Kita patut berbangga, karena Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki hutan mangrove terluas dan memiliki tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Fakta menyedihkannyanya, sampai saaat ini, Indonesia telah kehilangan lebih dari 40 % areal hutan mangrove karena aktifitas pembangunan.
Terlepas dari fakta tersebut, melalui kegiatan ini saya bisa melihat mangrove tidak hanya sebagai pohon yang bisa tumbuh di pesisir pantai kemudian menjadi tempat yang cantik untuk mengambil foto yang instagramable. Lebih dari itu, pohon mangrove menjadi penopang ekosistem dan menjadi penyebab air yang dikomsumsi masyarakat Pulau Panikiang tetap tawar.

Seperti kata Ibu Fatmah saat persentasi di Bola Sobae di kota Barru, menjaga mangrove adalah tanggungjawab kita bersama. Dibutuhkan kolaborasi antar pemerintah, masyarakat, NGO, Universitas dan pemerintah agar bisa terus menjaga kelangsungan hidup tanaman mangrove.
Menjelang sore, kami dan rombongan meninggalkan pulau Panikiang. Mengucapkan selamat tinggal pada rimbunnya pepohonan mangrove yang menjadi habitat ratusan burung, kelelawar dan berbagai jenis kepiting. Hewan-hewan ini beruntung menemukan rumah yang masih terjaga keasriannya. Semoga puluhan tahun dari sekarang, seperti kami yang tidak sabar pulang ke rumah dan mengharapkan kehidupan yang damai untuk anak cucu kelak, hewan-hewan ini juga pantas hidup damai dan terus bergenerasi. Begitu pula dengan puluhan penduduk pulau Panikiang.

1 Comment

  1. Awalnya saya juga kepikiran buat menanam mangrove langsung, pas di kasih tau ternyata penanaman mangrove tidak segampang prakteknya dan perlu riset saya sedikit kecewa tapi kekecewaan itu malah terbayar dengan bermacam-macam informasi edukasi yang belum pernah saya dengar dan tahu sebelumnya apalagi saya baru tahu ternyata di pulau pannikiang sendiri memiliki 1 jenis mangrove yang hanya tumbuh di indonesia khususnyapulau pannikiang tapi saya lupa namanya

Leave a Reply