Masih Tentang Kekerasan Seksual Pada Anak

Tahun 2019 kemarin banyak saya habiskan dengan mengelola sebuah proyek pencegahan kekerasan seksual yang didanai oleh salah satu NGO dari New Zealand. Baru saja beberapa hari lalu laporannya pelaksanaannya saya kirim lewat email. Ada perasaan senang karena bisa menyelesaikan program tersebut tepat waktu tetapi ada juga sedih karena pekerjaan ini harusnya tidak ada kata berhenti atau selesai sampai benar-benar tidak ada lagi kekerasan seksual yang terjadi di muka bumi ini.

Program ini melibatkan lingkungan sekolah dasar untuk meningkatkan pengetahuan akan pentingnya pencegahan kekerasan seksual diajarkan sejak dini. Guru-guru dilatih, orang tua diundang, psikolog juga dihadirkan langsung di sekolah. Melalui guru yang telah dilatih, anak-anak memperoleh pengetahuan mengenai anggota tubuh mereka dan cara melindungi diri. Untuk kelas yang lebih tinggi, anak-anak juga diajarkan mengenai bahaya dan dampak dari pornografi.

Ini kerjaan Orang Tua, Kenapa Repot-repot ke Sekolah?

Dulu saya pernah berpikiran seperti ini. Menganggap bahwa setiap orang tua bertanggung jawab terhadap anaknya masing-masing dan tidak seharusnya edukasi yang sifatnya sangat dasar seperti ini diajarkan di sekolah. Ini dulu ketika saya beranggapan bahwa setiap orang tua bisa mengerti tentang teori parenting. Semua pemikiran ini berubah ketika saya mulai terlibat di Yayasan LemINA dan bertemu dengan banyak orang yang bergerak di bidang pendidikan.

Foto by Dede Farsjad, dokumentasi Yayasan LemINA

Mendorong perubahan lewat sistem yang ada ternyata bisa dilakukan. Hal ini tanpa mengesampingkan berbagai inisiatif baik yang sudah dilakukan baik berupa seminar atau pertemuan-pertemuan yang membahas isu kekerasan seksual pada anak.

Sekolah menjadi lembaga pendidikan yang sangat strategis karena bisa melakukan pendekatan pada orang tua dan memanfaatkan jejaring sekolah yang ada. Tidak heran jika di Yayasan LemINA ada banyak program yang melibatkan sekolah dasar dengan harapan perubahan bisa lebih berkelanjutan.

Ada Apa Dengan Kekerasan Seksual?

Waktu sekolah dulu saya ingat betul seorang teman dekat bercerita bagaimana perasaan tidak nyaman karena salah satu keluarga mengajarinya mengendarai motor. Bukan karena aktifitas mengendarai motor tetapi si keluarga ini meminta temanku memegang penisnya. Waktu itu saya tidak tahu harus bereaksi apa selain menjadi pendengar yang baik bagi temanku. Di lain waktu teman yang lain juga bercerita tentang suami tantenya yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Saya dan beberapa teman lagi-lagi hanya bisa menyimak tanpa tahu harus melakukan apa.

Ingatan-ingatan tentang kisah ini kembali muncul ketika saya mulai terlibat dengan program pencegahan kekerasan seksual. Ada lebih banyak kisah mengerikan yang dipaparkan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Makassar. Cerita yang membuat miris dan bergidik karena korbannya adalah anak-anak yang masih sangat belia.

Angka-angka kekerasan seksual yang tercantum pada data ada begitu banyak. Jangan lupa kalau angka ini adalah angka yang terlapor. Bagaimana dengan kasus yang tidak dilaporkan dengan alasan aib keluarga atau bahkan hanya dipendam sendiri oleh korban?

Melihat data dan begitu banyak kasus yang ada, prihatin dan miris tidak akan pernah cukup. Harus ada langkah preventif agar kasus-kasus ini tidak sampai terjadi. Kita harus bergerak walau dengan langkah sekecil apa pun.

Foto by Dede Farsjad, dokumentasi Yayasan LemINA

Kita Bisa Apa?

Saya tahu membicarakan ini tidak akan semudah melakukannya. Membuka percakapan di keluaga tentang kekerasan seksual kadang tidak mudah. Untuk orang tua, biasanya rasa takut dan parno lebih mendahului hingga tidak jarang yang terjadi adalah overprotective.

Di modul yang kami ajarkan ke guru, poin utamanya adalah menciptakan rasa percaya diri anak. Anak yang percaya diri akan berani berkata ‘Tidak!” pada sesuatu yang tidak nyaman dilakukan padanya. Anak berani bercerita pada orang tua atau orang yang dipercaya tentang apa yang sudah dialaminya.

Rasa berani dan percaya diri ini akan tumbuh dengan baik jika lingkungan sekolah dan keluarga ikut mendukung. Anak yang selalu dibentak dan dilarang jika bertanya hal-hal remeh cendrung akan jadi penakut atau pemalu. Orang dewasa yang suka membentak ini seperti amnesia, lupa kalau dulu waktu kecil tidak suka diperlakukan serupa.

Mengajarkan anak tentang bagian tubuh pribadi mereka dan mana yang tidak boleh disentuh oleh orang lain membuat anak mengerti batasan. Ini bisa dilakukan dengan mengajarkan lagu ‘sentuhan boleh’ yang bisa dilihat di youtube.

Untuk orang tua yang anaknya bersekolah, membangun komunikasi yang baik dengan guru dan sesama orang tua juga akan membantu dalam pertukaran informasi tentang tumbuh kembang anak. Untuk guru, contoh modul pencegahan kekerasan akan bisa diakses di website lemina.org yang sayangnya masih under maintanance sat ini.

Kita semua memegang peranan penting dalam masyarakat. Ada yang menjadi orang tua (atau calon orang tua), kakak, sepupu, om atau tante. Peran ini diiringi tanggung jawab untuk menjaga anak-anak di lingkungan kita agar terpenuhi hak-hak mereka.


2 Comment

  1. dede farsjad says: Reply

    Semoga yang dikerjakan bisa menjadi langkah menyelamatkan anak-anak dari ancaman kekerasan seksual. Aamiin.

    1. arifayani says: Reply

      Aaamiin. Terima kasih sudah mampir kak 😉

Leave a Reply