Melawan Ketakutan, Berteman dengan Kematian

“The only thing we have to fear, is fear itself”, Franklin Roosevelt

Ketika ditanya tentang ketakutan terbesar, saya terdiam cukup lama. Jika diingat-ingat, banyak sekali hal yang saya takutkan di dunia ini. Mulai dari ketakutan akan ketinggian, takut kehilangan harta benda, takut kehilangan keluarga hingga takut diinfus. Tapi jika dipikir-pikir, ketakutan ini tidak seberapa dibanding ketakutan akan kematian dan kehidupan setelah kematian.

Sekitar seminggu lalu, saya baru saja kehilangan paman. Ia laki-laki yang (kelihatannya) sehat dengan satu anak perempuan yang manis. Saat ini istrinya sedang mengandung anak keduanya. Saya ingat betul malam itu saya terlelap dan dibangunkan oleh kabar jika paman meninggal dan sudah berada di kamar mayat salah satu rumah sakit di Makassar. Semua keluarga besar terkejut dan dirundung duka. Sebelumnya tidak ada yang tahu bahwa paman ini sedang berada di Makasar untuk urusan pekerjaan. Selama ini ia memang berdomisi di Sangatta, Kalimantan Timur. Hingga sebuah telepon dari kawannya yang mengantarnya ke rumah sakit memberikan kabar duka.

Malam itu juga saya dan keluarga besar menuju rumah sakit untuk melihat mayat beliau yang rencanya akan dimakamkan di kampung, Enrekang. Saya tiba bersama beberapa keluarga dan langsung menuju kamar mayat untuk melihat paman yang sudah terbaring kaku. Saat itu seluruh tubuhnya sudah ditutup kain putih. Setelah menahan untuk tidak mengeluarkan air mata, tangis saya akhirnya pecah saat melihat wajah paman yang pucat dan tampak seperti sedang tertidur lelap. Dia benar-benar telah meninggal, paman yang seharusnya masih sehat dan bisa kembali ke Sangatta. Kematian memang tidak mengenal usia, bukan?

Saya memutuskan mengantar jenazah paman ke kampung bersama beberapa keluarga. Kami menumpang mobil ambulans dan memecah malam Makassar dengan sirine kematian. Saat itu saya duduk bersama adik perempuanku di samping Pak Supir ambulans yang berwajah dingin. Jika sedang tidak berduka, mungkin saya sudah memberondongnya dengan banyak pertanyaan. “Sejak kapan jadi sopir ambulans antar kabupaten?” “bagaimana rasanya mengantarkan mayat yang kediamannya jauh?” “Pernah ada kejadian mistis?” Pertanyaan-pertanyaan itu hanya ada dalam kepala. Saya lebih banyak bermuhasabah. Membayangkan jika saya yang sedang terbaring di belakang sana.

Sebagai muslim, kita memang dianjurkan untuk selalu mengingat kematian dan menjadikannya pelajaran. Seperti nasehat yang disampaikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dalam salah satu sabdanya, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka akan bisa membatasi kebahagiaannya itu”

Di sisi lain, kematian menjadi ketakutan terbesar saya selama ini. Bayangkan saja jika tiba-tiba nyawa dicabut dan masih banyak kewajiban yang belum ditunaikan. Bagaimana kalau ternyata amalan kita masih sedikit atau bahkan sama sekali tidak berbobot. Yang paling mengerikan adalah bayangan tentang gelap dan pengapnya alam kubur.

Jika mengingat tentang kematian paman yang tiba-tiba, mata saya masih sering berkaca-kaca. Bahkan saat mengetik tulisan ini pun saya beberapa kali mengusap air mata yang tiba-tiba saja mengalir. Apa kabarnya sekarang ya? Apa kuburannya dilapangkan? Apa malaikat yang berperangai baik serta amalan yang berubah menjadi cahaya yang sedang membersamainya saat ini? Semoga.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran : 102)

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Al Jumu’ah : 8)

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin [as-Sajdah/32:12]

#15haritantanganmenulis

Melawan Ketakutan, Berteman dengan Kematian

One thought on “Melawan Ketakutan, Berteman dengan Kematian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *