Melihat Lebih Dekat

“Tunggu dulu, bernafaska dulu”

Adalah kalimat yang sering saya ucapkan setiap kali masuk ke kelas. Tangga curam yang saya lalui  patut dipersalahkan, atau diri saya sendiri yang jarang berolahraga sehingga begitu payah hanya dengan menaiki beberapa anak tangga. Sabtu sore setiap pekan menjadi begitu spesial dengan adanya kegiatan tambahan yang saya lakukan, yaitu mendampingi kelas literasi bagi disabilitas netra di YAPTI.

Interaksi dengan teman-teman di YAPTI sebenarnya berawal ketika Komunitas Bloger Makassar Anging Mamiri mengadakan pelatihan menulis artikel. Selanjutnya, seorang kawan membuat organisasi bernama TusiWork yang melakukan pendampingan keterampilan seperti komputer, programming dan menulis bagi tuna netra di tempat ini.

Saya ingat betul ketika suatu sore saya bersama murid-murid kelas literasi berjalan beriringan meninggalkan YAPTI. Tujuannya adalah untuk melihat kondisi sekitar YAPTI sekaligus tugas bagi mereka untuk menuliskan perjalanan ini. Sebenarnya saya ragu karena yang menjadi pemimpin perjalanan ini adalah Yoga dan Kak Syarif, murid di kelas yang terkenal jahil. Beberapa kali mereka terlihat berbisik dan tertawa-tawa yang membuat saya terus bertanya-tanya akan dibawa ke mana kami nanti.

Prasangka saya kalau Yoga dan Kak Sayarif akan bertindak usil ternyata salah. Kami melalui jalan yang normal tanpa hambatan apa pun selain polisi tidur yang oleh kak Riska disebut ‘polisi jongkok’ saking tingginya undakannya. Beberapa pengendara menatap kami cukup lama. begitu pula dengan warga yang sedang bercengakrama sore di pinggir jalan yang kami lalui.

Hangat matahari yang sore hari itu, tawa ceria teman-teman di YAPTI dan nafas saya yang tersengal membuat sore itu menjadi salah satu sore yang tidak akan saya lupa. Sayang sekali, sabtu kemarin adalah pertemuan terakhir saya di kelas literasi karena setelah lebaran saya sudah tidak bisa mengajar lagi.

Di lain waktu ada kalanya saya memilih melaksanakan shalat maghrib di masjid YAPTI karena jarak rumah yang jauh dan waktu berakhir kelas sering kala sudah sangat petang. Kali pertama shalat bersama teman-teman di YAPTI membuat saya takjub dengan apa yang saya lihat. Mereka datang dengan teratur meski sekali-kali ada anak kecil penyandang tuna netra yang lain yang terus saja bermain. Pernah juga ada perempuan yang berteriak terkejut karena salah memegang teman yang disangkanya shaf perempuan. Akhir shalat maghrib di mushallah kecil YAPTI menjadi momen kontemplasi yang mendalam sembari mengamati tingkah laku penghuni asrama YAPTI.

Dari kelas Literasi sungguh saya belajar banyak hal terutama tentang rasa syukur.

*tulisan ini dibuat untuk mengingat kembali beberapa aktifitas yang saya lakukan tahun 2018. Semoga bisa bertemu lagi teman-teman YAPTI 🙂

Leave a Reply