Melihat Semangat Bersekolah Anak-Anak Borong Tangngayya

Feature Image isi

Pagi di depan sebuah kelas, saya mendekati anak laki-laki yang terdengar sedang melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Sambil mendengarkan anak yang belakangan saya tahu bernama Yusuf ini, saya menghitung jumlah surah yang telah Ia baca. “Sudah tujuh surat, masih ada lagi?” seperti biasa saya sok akrab dengan anak-anak. Ia hanya menjawab dengan senyum malu-malu.

Yusuf adalah satu dari beberapa siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar Inpres Kajenjeng, Kecamatan Antang, Kota Makassar. Perjuangan Yusuf menuju sekolah tidak semudah teman-teman lainnya yang tinggal di areal sekitar sekolah. Yusuf bersama beberapa kawan lainnya harus menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dengan berjalan kaki setiap hari untuk bisa belajar dan mengenyam pendidikan yang layak. Kehadiran saya di sekolah Yusuf adalah bagian dari program edukasi pencegahan kekerasan seksual pada anak yang dilaksanakan oleh Indonesian Future Leaders (IFL) chapter Makassar bekerjasama dengan komunitas Sobat LemINA bulan Oktober lalu. Kegiatan yang diakhiri dengan rasa penasaran saya dengan perjalanan seperti apa yang dilalui oleh Yusuf dan kawan-kawannya setiap hari.

Foto 1

Siang itu bersama seorang kawan,  saya memutuskan mengikuti perjalanan Yusuf pulang. Tidak sendiri, Yusuf ditemani beberapa teman-temannya. Mereka berkumpul di depan rumah seorang warga dan menunggu satu sama lain sebelum bersama-sama berjalan kaki kembali ke rumah mereka yang terletak di Kampung Borong Tangngayya. Yusuf melepas sepatu, diikuti teman teman-temannya yang lain. “kenapa dilepas?” saya bertanya sambil menatap kaki mereka yang terlihat penuh luka. “Biar tidak kotor kak,” jawaban dari salah satu anak ini membuat saya bergetar. Di Makassar yang telah berjulukan kota dunia ini, masih ada sekelompok anak-anak yang harus mengakses sekolah dengan jarak tempuh yang sangat jauh. perjalanan pulang mereka melaui areal persawahan yang tidak jarang penuh lumpur. Tidak heran jika sebelumnya Yusuf dan kawan-kawannya dengan sigap melepas sepatu dan memasukkan pakaian sekolah mereka ke dalam tas.

Melewati jalan beton yang lebarnya hanya untuk dilalui dua orang saja, kami melanjutkan perjalanan ke areal terbuka. Sepanjang mata memandang hanya terlihat rumput dan persawahan. Dari kejauhan, terlihat juga perumahan yang setiap saat bisa terus meringsek, menutup areal persawahan yang mungkin beberapa puluh tahun ke depan tidak bisa lagi ditemukan jejaknya, tertutup dengan pembangunan kota. Saat itu, matahari sedang sangat terik sehingga membuat saya berkali-kali menggunakan tangan untuk menutup wajah saya agar tidak belang saat pulang nanti.

Belum terlalu jauh perjalanan, rombongan anak-anak ini berhenti lagi di bawah kolong rumah panggung yang tampak baru dibangun. Bagian bawah rumah panggung ini terdapat kubangan berisi air yang menjadi tempat yusuf bermain bersama beberapa kawannya. Dengan girang mereka bergelantungan dan melompat-lompat. Perjalanan yang jauh rasanya memang butuh banyak istirahat.

Foto 2

Sambil menunggu Yusuf bermain, saya bercerita dengan anak yang paling tua dalam rombongan ini. Anak laki-laki ini bernama Ardi yang saat ini duduk di kelas enam. Ia banyak bercerita tentang tempat tinggalnya. Kampung ini katanya sudah sering menjadi langganan banjir. Yusuf dan kawan-kawannya saja, jika musim hujan, terkadang harus menggunakan perahu ke sekolah karena areal yang mereka lalui sudah tertutup dengan air. Perjuangan yang menyesakkan mengingat usia mereka yang masih sangat belia.

Yusuf masih tampak bersemangat bermain. Ardi dan beberapa teman yang lain dengan sabar menunggu mereka berhenti bergelantungan. Puas, mereka melanjutkan perjalanan, kali ini jalur berupa titian bambu harus mereka lalui. Karena tidak bisa mengikuti perjalanan mereka sampai akhir, kami melambaikan tangan pada anak-anak kecil ini. Berdoa sebaik-baiknya pada masa depan mereka yang masih sangat panjang. Serta berharap akses ke sekolah mereka bisa menjadi lebih mudah.

Foto 5

NB : Terima kasih kepada Ardi, Qolbi, Riska, Asriani dan Yusuf yang telah berbagi cerita perjuangan mereka ke sekolah 🙂

 

 

 

 

 

Melihat Semangat Bersekolah Anak-Anak Borong Tangngayya

8 thoughts on “Melihat Semangat Bersekolah Anak-Anak Borong Tangngayya

  • 10 November, 2017 at 10:09 PM
    Permalink

    saya harus save linknya nih
    biar anak2 saya nanti kalau maless2an skolah bisa langsung bukakan ini
    tapi semoga gak sih semoga semangatnya kayak anak2 romang tangngayya ini .
    keren social storynya ifaaaa
    keep blogging in yg bginian yaa :-*

    Reply
    • 11 November, 2017 at 6:24 PM
      Permalink

      Terima kasih kak Qiah. Aamiin. Duo Zam akan lebih semangat lagi dong sekolahnya 😊

      Reply
  • 11 November, 2017 at 8:32 AM
    Permalink

    Di tahun 2017 dan masih ada anak yang harus naik perahu ke sekolah kalau banjir huhu. Tapi senang ya melihat mereka tetap semangat bersekolah.

    Reply
    • 11 November, 2017 at 6:22 PM
      Permalink

      Semoga semangat mereka bersekolah jadi inspirasi untuk orang-orang di luar sana yang dilimpahi dengan kemudahan akses ke sekolah tapi masih suka malas 😅

      Reply
  • 11 November, 2017 at 6:38 PM
    Permalink

    Semoga pemerintah bisa memberikan perhatian lebih terhadap infrastruktur pendidikan di kota yang melabeli dirinya “Kota Dunia”.

    Reply
  • 15 November, 2017 at 10:40 AM
    Permalink

    Saya suka energi anak muda seperti Ifa…semangat!

    Reply
  • 15 November, 2017 at 10:42 AM
    Permalink

    Semoga mendapat perhatian dri beberapa pihak apalgi jika melihat semangat anak2 ini untuk bersekolah sgt luar biasa

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *