Membaca Mata Lensa

“I love this job, with all the gain and the pain,” Adek Berry

Pagi itu mata saya berbinar menemukan kiriman buku berjudul Mata Lensa. Buku yang beberapa pekan ini berseliweran di instagram karena beberapa kali menjadi bahan perbincangan Bang Arbain Rambei, salah satu fotografer kompas yang sosial medianya sudah saya ikuti sejak saban hari. Tidak seperti buku-buku lainnya, hari itu saya memutuskan membaca Mata Lensa tanpa menyimpannya di rak terlebih dahulu. Keputusan saya tidak salah, buku ini khatam hanya dalam waktu semalam. Saya puas dan menutup lembaran terakhirnya dengan senyum sumringah.

Mata Lensa, Adek Berry

Katanya, buku bagus itu kalau kamu berhenti membacanya tapi masih bisa terus mengingat isinya lalu menceritakannya pada orang lain. Mata lensa bisa jadi salah satu buku yang bisa saya ceritakan pada siapa pun. Tiba-tiba saja saya merasa dekat dengan penulisnya, merasakan haru biru dunia jurnalis fotografi.

Penulis yang bernama lengkap Lestri Berry Wijaya atau kerap disapa Adek Berry ini lahir di Curup 14 September 1971. Jika dunia fotografi selalu identik dengan maskulinitas, berat dan terlihat didominasi oleh banyak kaum adam, Adek Berry justru memutuskan terjun ke dunia jurnalistik hingga akhirnya fokus pada jurnalis foto. Kisahnya ini bisa dibaca pada Episode I Menjadi Jurnalisfoto dalam buku Mata Lensa.

Saya sendiri selalu melihat profesi fotografer sebagai pekerjaan yang keren apa lagi jika pekerjaan ini digeluti oleh seorang perempuan berjilbab. Berlari-lari mengejar berita dan gambar yang bagus serta memilih sudut pemotretan yang tepat tentu bukan hal gampang. Belum lagi jika dihadapkan pada medan dan situasi yang chaos. Namun demikian, seperti kata Adek Berry pada halaman awal Mata Lensa, “I love this job with all the gain and the pain.”

Membaca buku Mata Lensa seperti membaca fragmen sejarah Indonesia dari mata seorang Adek Berry. Mulai dari peristiwa kerusuhan 98, hilangnya pesawat, hingga beberapa bencana besar yang terjadi di Indonesia beberapa tahun lalu. Tidak hanya itu, Adek Berry juga memberikan bocoran kejadian di balik meja redaksi sebuah berita yang tidak banyak diketahui orang. Penulis mengemas ceritanya dengan apik sehingga saya tidak bisa berhenti membuka halaman berikutnya lagi dan lagi hingga tiba pada halaman akhir.

Meski sempat berpikir buku Mata Lensa hanya akan cocok untuk penggiat fotografi, ternyata saya salah. Buku ini cocok untuk pembaca semua kalangan. Bagi mereka yang ingin merasakan ketegangan di balik lensa seorang jurnalis foto, membaca keresahan seorang istri sekaligus ibu dua anak yang harus meliput di daerah perang selama berbulan-bulan, buku ini sangat layak masuk dalam deretan ‘must have book‘ tahun ini ๐Ÿ˜Š

 

 

Membaca Mata Lensa

2 thoughts on “Membaca Mata Lensa

  • 8 December, 2017 at 11:16 PM
    Permalink

    jadi pengen baca jugaaa ini,
    saya sering liat hasil2 foto bund adekbery di facebooknyaa
    beliau dulu yg jd fotogarfer official world muslimah beauty

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *