Membicarakan Menstruasi

Beberapa anak perempuan tersenyum kemudian membenamkan wajah dalam kerudung putih yang mereka gunakan, malu-malu. Seorang anak  yang duduk cukup dekat dengan saya melirik dan berbisik-bisik kepada temannya yang lain. Jumlah kami bertujuh saat itu. Lima orang murid sekolah dasar kelas 6, saya dan seorang teman yang bertugas sebagai notulen. Kami duduk membentuk lingkaran, berusaha menciptakan suasana senyaman mungkin selama proses focus group discussion mengenai management hygiene menstruation berlangsung.

Di awal diskusi, setelah mengajak mereka berkenalan,beberapa kali saya menyebutkan bahwa kita akan ngobrol dan bertukar cerita. Tidak ada yang perlu ditakutkan karena tidak ada jawaban benar dan salah. Kami datang hanya untuk belajar sama seperti apa yang mereka lakukan di sekolah. Anak-anak ini juga diajak untuk berbicara jujur dan tidak malu dalam menjawab.

Meski sudah berusaha meyakinkan mereka, ada saja anak yang malu bercerita. Pembicaraan mengenai menstruasi memang bukan hal yang lumrah dilakukan dengan anak sekolah dasar. Terlebih jika lingkungan masih menganggap hal tersebut tabu. Saya memilih tidak terlalu agresif dan memaksa mereka menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan.

Dari anak-anak ini saya tahu bahwa pengetahuan mengenai menstruasi masih sangat kurang di kalangan anak perempuan. Permasalahan ini tidak dibicarakan secara serius oleh orang tua khususnya oleh Ibu. Hal tersebut bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan Ibu mengenai menstruasi dan fakta-fakta yang bercampur dengan mitos yang tersebar di masyarakat.

MITOS

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingat punya kakak kelas dengan badan bongsor dan bodi aduhai. Perangainya juga dewasa dengan tingkah yang centil. Yang saya ingat, dia sering disebut ‘calleda’ oleh teman-teman yang lain. Orang dewasa dan guru-guru ada juga yang sering bilang kalau kakak kelas itu sudah ‘macarepa’.

Kata macarepa sendiri berasal dari asal kata ‘carepa’ atau kotor. Jadi orang-orang di kampung menyebut menstruasi dengan kata macarepa. Asbabnya mungkin karena disaat yang sama, perempuan muslim tidak diperbolehkan melaksanakan shalat.

Saya sendiri mengalami haid pertama ketika menginjak kelas dua sekolah menengah pertama. Perasaan takut dan sedih bercampur menjadi satu. Rasa takut karena dari guru agama saya tahu bahwa perempuan haid berarti sudah akil baligh. Jika sebelumnya shalat masih suka bolong, ketika sudah mencapai usia baligh, maka dosa tidak melaksanakan shalat menjadi lebih besar.

Selain persoalan ibadah, perempuan haid juga dijejali dengan berbagai mitos yang turun temurun dikatakan oleh nenek, orang tua, keluarga dan juga teman. Mitos seputar menstruasi sangat beragam. Ada yang bilang tidak boleh keramas saat haid, tidak boleh makan buah nanas, tidak boleh lompat, tidak boleh potong kuku, dan ada juga yang bilang tidak boleh dekat-dekat dengan lawan jenis. Beberapa mungkin terdengar familiar.

Mitos yang cukup ekstrim mungkin terdapat di daerah-daerah pedalaman. Perempuan yang sedang haid ada yang diasingkan di tempat khusus dan tidak diperbolehkan keluar dari tempat tersebut hingga masa menstruasinya berakhir.

Seorang teman SMP pernah juga mengatakan bahwa darah haid bisa membuat tambah cantik dan mengobati jerawat. Bayangkan bagaimana cara mengaplikasikannya. Beruntung saya tidak percaya, karena teman saya itu mengaku melakukan hal serupa tetapi gagal membuktikan. Wajahnya tetap penuh jerawat.

BERBAGI PENGETAHUAN

Materi dengan bahasa yang lugas dan gambar yang menarik akan lebih mudah dipahami
Materi dengan bahasa yang lugas dan gambar yang menarik akan lebih mudah dipahami

FGD yang dilakukan oleh unicef di kabupaten Takalar adalah untuk melakukan  pre tes buku  menstrual hygiene management yang diproduksi oleh unicef. Buku tersebut sederhana namun memuat berbagai macam informasi terkait menstruasi yang dikemas dengan bahasa sederhana dan gambar yang menarik.

Salah satu isi dari buku  memuat tentang ketidakharusan mencuci pembalut sekali pakai ketika selesai menggunakannya. Saat diberitahu, beberapa Ibu-ibu tertawa bergidik sambil memandang satu sama lain. Mencuci pembalut memang tidak seharusnya dilakukan, namun menjadi petuah turun temurun oleh Ibu ke anak gadis. Ada yang berkata bahwa darah haid haruslah dicuci agar tidak ditemukan oleh orang atau disalah gunakan untuk ilmu hitam.

Faktanya, anjuran seperti ini membuat beberapa anak perempuan malas mengganti pembalut terutama saat di sekolah, dimana akses toilet dan air bersih masih sulit di beberapa tempat. Hal ini tentunya bisa berujung pada penyakit berbahaya bagi perempuan karena bakteri yang bersarang pada pembalut yang tidak diganti selama 3-4 jam.

Selain FGD dengan anak perempuan SD yang belum menstruasi, sesi FGD  juga dilakukan dengan ibu-ibu, anak perempuan sekolah dasar yang sudah mengalami menstruasi, anak laki-laki dan juga guru dari sekolah setempat.

Sesi dengan Ibu-ibu menjadi sangat dinamis dan menarik. Mereka cenderung lebih terbuka dan menjawab pertanyaan tanpa ragu. Beberapa  mengaku belum pernah membicarakan soal menstruasi dengan anak perempuan mereka dengan alasan usia anak yang masih sangat muda.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan menstruasi yang buruk dapat berujung pada drop out, absen di sekolah, bahkan resiko penyakit yang berbahaya. Sementara itu akses informasi mengenai menstruasi masih sangat terbatas.

Harapannya tentunya adalah kita bisa menjadi orang tua, teman dan guru yang memberikan informasi tepat mengenai managemen menstruasi bagi anak perempuan. Tentunya didukung oleh akses sanitasi, ruang kesehatan di sekolah dan sumber informasi yang memadai.

 

4 Comment

  1. Bagus Ifa menuliskan ini.

    Saya haid kelas 6 SD. Untungnya orang tuaku sudah cerita ttg haid dan saya siap begitu haid, langsung lapor ke orang tua dan diajar mandi wajib. Ada juga lho, anak yang tidak diajar mandi wajib oleh orang tuanya. Saat SMA, ada teman yang baru tahu kalau ternyata kita harus mandi wajib usai haid. Saya heran juga padahal orang tuanya termasuk berpendidikan.

    Tentang darah haid mengobati jerawat, suami saya dulu diobati pakai itu lho. Bekas darah haid ibunya. Jadi, bekas haid yang dicuci asal2an kemudian dipaparkan ke wajah seperti memakaikan orang bedak. Daaan guess what, jerawatnya berhenti. Yah, boleh percaya boleh tidak 😀

    1. arifayani says: Reply

      Hihih, mandi wajib ada di pelajaran agama juga padahal.

  2. Marda says: Reply

    Sangat penting memperkenalkan proses haid ini pada anak-anak yang belum maupun yang baru mengalaminya. Terutama proses mandi suci setelah haid berhenti.
    Eh…saya juga punya cerita tentang haid.

    1. arifayani says: Reply

      Betul sekali kak. Disitu peran orang tua terutama Ibu.
      Wahhh, bagi cerita tentang haid dong kak 😀

Leave a Reply