Mengenang Puasa di Rantau

Saya masih ingat saat kecil dulu sering disuruh Ibu mengantarkan menu buka puasa ke satu-satunya masjid di kampung kami. Sekedar mengantarkan, karena sudah ada panitia yang menyiapkan piring dan segala perlengkapannya. Jadi setelah hantaran saya bawa dan dipindahtangankan ke panitia masjid, saya akan kembali ke rumah dengan membawa mampan yang sudah kosong.

Pada masa itu, suasana desa terasa sangat damai dengan anak-anak yang berlarian menunggu waktu berbuka puasa. Terlihat juga bapak-bapak yang duduk manis di depan menu takjil yang digelar di pelataran masjid. Jika waktu berbuka semakin dekat, saya akan pulang ke rumah dengan berlari, berkejaran dengan shalawat yang berkumandang dari pengeras suara masjid.

Meski sejak kecil terbiasa menghantarakan menu takjil ke masjid, tidak pernah terpikirkan untuk berbuka puasa di masjid. Mungkin karena selalu di wanti-wanti oleh ibu untuk pulang cepat dan berbuka di rumah. Mungkin juga karena berbuka di rumah tidak akan pernah tergantikan nikmatnya. Tapi itu dulu, saat saya masih kecil dan dikelilingi sanak saudara.

Berada di kota besar merubah semuanya. Tanpa keluarga, saya harus pintar-pintar membunuh bosan dan rasa rindu akan rumah. Salah satunya dengan mencoba berbuka di masjid kebanggaan Jakarta, Masjid Istiqlal. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara sekaligus menjadi simbol perdamaian antar umat beragama kerena posisinya yang bersebarangan dengan Gereja Katedral.

Setelah mencari tahu lokasi dan bertanya sana sini, saya tiba di pelataran Masjid Istiqlal. Sudah banyak jamaah yang terlihat hilir mudik di area masjid. Pedagang aksesoris dan jajanan juga menambah riuh suasana sore menjelang maghrib itu. Saya yang memang hobi jalan sendiri, dengan pede masuk ke dalam masjid yang ternyata sudah dipenuhi jamaah yang bersiap untuk berbuka puasa. Mereka duduk dengan rapi meski sedikit berdesak-desakan. Terbengong-bengong saya mencari lokasi jamaah perempuan berada. tepat di bagian dalam ternyata. Sementara itu, Petugas Masjid Istiqlal dengan sigap membagikan ratusan menu takjil kepada kami. Karena pengaruh terburu-buru, bungkusan kurma yang bertuliskan nama salah satu provider telekomunikasi dilemparkan begitu saja ke jamaah yang duduk berjejer dan berhadap-hadapan.

Berbuka puasa di masjid memang seru. Bertemu bersama orang-orang yang sama sekali tidak dikenal menjadikan buka puasa lebih bermakna. Ada banyak yang momen bisa membuka percakapan dengan sesama pemburu takjil Masjid. Ada pekerja kantoran, ada ibu rumah tangga, atau yang ingin melakasanakan shalat tarawih sekaligus berbuka di Masjid istiqlal. Tidak ada tawa terbahak seperti yang biasa terjadi setiap kali berbuka bersama teman-teman kuliah. Berbuka kali ini menjadi lebih khusuk dan syahdu.

Ada sedikit ngilu sebenarnya setiap kali membuka BBM atau whatsapp, ada saja teman-teman yang memposting momen berbuka puasa mereka dengan teman atau keluarga, atau sekedar memposting menu buka puasa mereka yang bikin ngiler. Padahal waktu berbuka daerah indonesia barat masih tersisa satu jam. Tapi lagi-lagi, ramdan kali ini memang spesial dan harus saya maknai lebih spesial juga.

Berada jauh dari keluarga membuat saya belajar lebih bijak dan lebih banyak bersyukur. Memaknai ramdan bukan cuma sebatas menahan lapar dan dahaga. Bukan sekedar ‘bersenang-senang’ atau berbuka puasa bersama teman.

Selamat berpuasa.

 

Leave a Reply