Menonton Film Istirahatlah Kata-Kata

istirahatlah kata-kata

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menginjakkan kaki di bioskop. Hingga suatu siang beberapa pekan lalu, tepatnya tanggal 19 Januari, seorang teman bercerita tentang film yang katanya hanya akan tayang hari itu saja. Film tersebut berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Film yang bercerita tentang Wiji Thukul, salah seorang aktivis yang hilang pada tahun pergolakan demokrasi di Indonesia. Saya memutuskan mengunjungi bioskop, menuntaskan rasa penasaran sekalian melepas penat setelah beberapa hari dijejali dengan kesibukan.

Bersama dua orang teman, kami memasuki bioskop. Terburu-buru karena jam tayang yang berhimpitan dengan waktu shalat maghrib. Kami datang tepat disaat lampu bioskop dimatikan dan penerangan hanya berasal dari layar. Setelah menemukan kursi, saya duduk dengan takzim, menatap tulisan-tulisan yang muncul tenggelam di layar.

Adegan pertama berlatar tahun 96 di Solo. Scene menunjukkan anak perempuan yang diinterogasi oleh seorang bapak berjaket hitam.  “Bapak beli banyak buku buatmu ya?“. Pria klimis berjaket hitam tersebut bertanya dalam bahasa Jawa sambil mengunyah kue yang dibungkus daun pisang. Layar tiba-tiba menjadi gelap. Terdengar suara penonton berseru memanggil operator. Sempat terlintas kalau-kalau bioskop disabotase hahaha, saya memang suka berpikiran buruk. Tidak sampai lima menit, film kembali diputar.

Selanjutnya film ini bisa dibilang terlalu sunyi dan terlalu artistik. Tidak ada adegan-adegan kerusuhan selayaknya film-film yang menunjukkan pergolakan di masa orde baru. Tidak ada adegan kejar-kejaran atau todongan pistol secara gamblang. Bagi penggemar film sains fiksi dan action serta drama korea macama saya, film ini cukup membosankan.

Meski menurut saya membosankan, adegan-adegan dalam film yang judulnya diangkat dari salah satu judul puisi Wiji Thukul ini bisa dibilang sangat indah. Bayangkan saja, untuk menunjukkan adegan Wiji Thukul dalam pelarian dan bersembunyi dalam kamar, layar hanya menampilkan suasana kamar dengan shoot kaki pemain utama. Tanpa berpindah latar, terlihat Wiji Thukul berdiri kemudian menutup jendela. Hal ini hanya bisa dilihat dari pantulan badannya yang menutup jendela kamar yang kemudian berubah menjadi jauh lebih remang dari sebelumnya.

Selain gambar, puisi-puisi Wiji Thukul yang menjadi sound di beberapa scene juga sangat menarik. Saking puitisnya, setiap kalimat yang Ia ucapkan dalam adegan bisa saya buat caption di instagram. Yang paling saya ingat adalah ketika Gunawan Maryanto yang berperan sebagai Wiji Thukul berkata, “Rezim ini bangsat tapi takut dengan kata-kata”.

Film ini ditutup dengan penjelasan berupa tulisan di layar bioskop. Wiji Thukul bersembunyi tahun sekian, kemudian ikut demo besar-besaran tahun sekian kemudian ditangkap tahun sekian. Tentu penting mengingat tentang satu diantara sekian banyak aktivis yang diciduk pada masa pergolakan demokrasi, Wiji Thukul salah satunya. Pekerjaan rumah tentang ‘mencari keadilan’ dan ‘menolak lupa’ ini yang belum rampung bahkan hingga beberapa periode kepemimpinan.

NB : Ketika meninggalkan bioskop, ajaib saya melihat Aan Mansur. Pencipta puisi yang tenar dengan puisi Tidak Ada New York Hari Ini. Ternyata kami berada di ruang bioskop yang sama. Padahal hanya beberapa saat sebelumnya saya membayangkan sosoknya yang sangat mirip dengan Wiji Thukul yang mengenakan topi, berkaos oblong serta memakai tote bag polos 😀

 

 

 

1 Comment

  1. jangan-jangan jodoh sama Aan Mansyur #eh x)))

Leave a Reply