Oleh-oleh Dari Reuni Program INSPIRASI

Sejak diberitahu mengenai jadwal reuni melalui email, saya sudah tidak sabar menanti hari ini tiba. Wajah-wajah yang dulu membersamai selama enam bulan di Auckland akan berjumpa lagi di Makassar. Melalui reuni ‘anak sulung’ program INSPIRASI, kami bertemu kembali, bertukar cerita dan berbagi kabar-kabar bahagia.

Kurang Ojan yang tak bisa hadir karena sedang sakit

Citra dari Burung Indonesia dan Tirsa dari Hekaleka Maluku adalah dua orang pertama yang kutemui. Tidak ada yang berubah dari Citra yang terkenal sebagai chef di angkatan kami. Ia ceria dan cerewet seperti biasa. Bak pedagang, kipas khas Gorontalo dengan sulaman karawo ia jejer di atas koper. “silahkan pilih, Peh,”katanya dengan bersemangat.

 Kak Tirsa juga datang dengan berkaleng-kaleng sambal dari Ambon, Maluku. Saya memilih sambal ikan roa yang tampak sangat menggiurkan apalagi disajikan dengan telur dadar dan nasi hangat. Suara khas kak Tirsa dan ucapan “lets go guys!”-nya selalu terngiang-ngiang hingga sekarang.

Mama Laila tiba setelah kami mencicipi jalangkote dan pisang ijo di Jalan Lasinrang. Bertemu di lobby hotel, rasanya tidak mau melepas pelukan dengan perempuan yang terlihat semakin cantik ini. Seperti biasa, Program manager INSIRASI yang kami panggil mama Laila tidak akan melewatkan ritual makan coto, salah satu makanan faforitnya. Kami menuju jalan serigala, segera memesan makanan serta bertukar cerita terbaru.

Kak Rosa, kak Serly dan kak Ete tiba di hotel ketika kami sudah kembali dari menyantap coto. Bahagia melihat mereka kembali setelah delapan bulan hanya bertukar kabar lewat media sosial. Kak Rosa rambutnya semakin panjang dengan kacamata dan senyum manisnya.  Sementara kak Ete tampak semakin mempesona dan eksotis dengan rambut pendeknya yang ikal. Kak Serly tidak lupa menyapa dengan kalimat ‘Kia ora’ dan senyum khasnya. Saya bahagia sekali bertemu mereka lagi.

Hari senin, reuni secara resmi dibuka dengan menghadirkan pemateri Pak Yanni dan Ibu Lusi. Dua orang yang berhasil menambah insight tentang perkembangan politik di Indonesia dan bagaiamana hubungan NGO dan politik selayaknya terjadi. Praktek politik kotor yang menjadi stigma adalah hambatan utama masyarakat dalam mempercayai politik sebagai jalan menuju kesejahteraan. Kita alergi lalu apatis dan lupa ada jalan advokasi yang bisa ditempuh dan menghasilkan kebijakan yang lebih berdampak.

Pembahasan yang cukup serius ini berakhir dan kami segera menuju Bulukumba, menghabiskan dua hari dengan bersenang-senang (baca: persentasi) di penginapan yang berbatasan langsung dengan pantai berpasir putih.

Seperti yang tidak kalian ketahui, sepulang dari NZ, kami menjalankan project sesuai dengan interest masing-masing. Saya yang berasal dari Yayasan Lembaga Mitra Ibu dan Anak memilih menjalankan program pencegahan kekerasan seksual berbasis sekolah. Isu yang menjadi concern saya sejak lama, mungkin juga untuk banyak alasan sentimental.

Dari sekian banyak persentasi, saya menarik kesimpulan bahwa kami menghadapi banyak hal serupa. Pembelajaran yang didapatkan pun sama halnya. Tidak heran jika muncul banyak kata seperti  leadership dan  connections di akhir persentasi kami.

Dari sekian banyak project, Kak Tirsa berhasil tiba di garis finish lebih dulu. Ia bersama organisasinya menjalankan program peningkatan kapasitas untuk guru paud di pulau-pulau Maluku. Gerak lincah perempuan ini memang selalu menjadi inspirasi kami semua. Salah jika saya menyebutnya garis finish karena kak Tirsa terus melaju melakukan kegiatan bersama guru-guru paud yang sama bersemangatnya. Semangat yang tertular dan bisa kami rasakan bersama.

 Sementara itu, 7 orang lainnya termasuk saya masih dalam proses menjalankan project. Tidak lupa kami saling bergandengan tangan dan mengingatkan bahwa sumber kekuatan terbesar ada pada niat awal kami melaksanakan project ini, untuk komunitas dan lingkungan yang lebih baik.

Saya belum menyebut Tiwi, sounds like Kiwi dan Ojan yang sama-sama berasal dari Makassar. Sebelum reuni kami beberapa kali bertemu dan bertukar cerita dan keresahan. Senang karena mereka dekat dan terjangkau untuk masuk dalam support system yang bisa saling menguatkan.

Terima kasih klean sudah datang. Maaf tak bisa memberi oleh-oleh selain doa semoga kebaikan dan kekuatan mengiringi langkah-langkah kita. Sampai tua, sampai kita berjumpa lagi dengan cerita dan semangat yang terus meletup.

Leave a Reply