Orang-Orang Baik di Sekitar Kita

Aroma bakso pangsit dan nasi goreng bercampur di ruangan  tempat kami makan siang dan membentuk majelis kecil. Entah bagaimana ceritanya kami mulai saja membahas tentang tantangan menulis selama 5 pekan yang diadakan oleh sobat lemina. Salah satu tulisan teman cukup menarik perhatian saya adalah tentang menemukan kebaikan. Ia menulis kisah ketidakberuntungannya ketika sedang berkendara dan kehabisan bensin, lalu ditolong oleh orang yang yang sama sekali tidak dikenal. Tulisannya bisa dibaca di link ini.

Karena tulisan tersebut, sambil terus mengunyah mie pangsit, tidak butuh waktu lama satu per satu kami mulai menceritakan keberuntungan-keberuntungan yang kami dapatkan ketika mengalami hal buruk di jalanan. Saya juga ikut menceritakan pengalaman naas yang saya alami sejak pandai berkendara dan menjadi anak ‘motor-motor’ lintas kabupaten Gowa dan Makassar.

Sewaktu kuliah dulu saya pernah mengajar di sebuah lembaga kursus dan privat yang terkadang membuat saya harus pulang larut. Langit Makassar malam itu sedang hujan-hujannya ketika saya memaksakan diri menerjang banjir di daerah Minasaupa.  Malang tak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Bisa ditebak apa yang terjadi pada motor yang saya paksakan melewati air yang tingginya selutut? Mogok!

Saya panik, menatap ke jalan yang penerangannya remang sambil mendorong motor ke jalan yang lebih tidak tergenang. Air mata saya mengalir deras, mengingat hal buruk yang bisa saya alami di jalan yang sering menjadi lokasi mahasiswa perang etnis ini.

Entah dari arah mana, muncul seorang bapak bersarung dan mengenakan peci yang menawarkan bantuan mendorong motor saya. Padahal sebelumnya sudah ada beberapa motor yang lewat dan tidak menghiraukan saya. Well, mereka juga sedang berjuang menerjang banjir. Tapi bapak ini berbeda. Ia menghampiri dan menawarkan bantuan. Ia membantu mendorong motor dan membawanya masuk ke dalam rumah yang berada tidak jauh dari lokasi banjir. Bapak yang tidak sempat saya tanyakan namanya itu memeriksa beberapa bagian motor dan mengambil kesimpulan kalau busi motor saya basah sehingga tidak bisa dinyalakan meski sudah berkali-kali dicoba.

Tidak lama kemudian, datang seorang anak laki-laki menghampiri bapak tersebut dan ikut membantu mengutak atik motor. Berkali-kali Ia menginjak  starter kaki sambil memutar setir. Butuh waktu lama agar motor  kembali mengeluarkan deru yang membuat saya lega. Tidak berhenti saya mengucapkan terima kasih pada bapak yang tidak saya tahu namanya itu.

Di lain waktu, motor yang saya kendarai berhenti seketika tanpa sebab. Lebih tepatnya: saya tidak tahu sebabnya. Padahal jalanan sedang padat merayap di daerah Tello Makassar. Saya putuskan turun dari motor dan menepi, merapal doa berkali-kali agar motor saya  kembali berbunyi. Suara klakson yang menderu di mana-mana membuat saya semakin putus asa dan berhenti mencoba menyalakan motor.

Tiba-tiba seorang pria menepikan motornya kemudian menghampiri saya yang putus asa. Ia menanyakan kondisi motor dan membantu menyalakannya dengan menginjak starter kaki motor Honda beat yang sebenarnya jarang sekali mogok karena cukup rajin saya servis. Ajaib, motor kembali menyala setelah berkali kali pria ini mencoba menstater plus mematikan mesin motor. Setelah itu, pria yang tak sempat kutanyakan namanya ini berlalu, tenggelam bersama kerumunan motor-motor di jalan.

Kejadian-kejadian seperti ini membuat saya percaya bahwa orang baik ada di mana-mana. Orang hanya butuh trigger untuk tergerak melakukan kebaikan. Semakin banyak kenal dengan orang membuat saya percaya bahwa setiap pribadi punya sisi baik dan juga sisi tidak baik dengan proporsi yang berbeda-beda. Kita sendiri bisa memilih pribadi mana yang ingin ditonjolkan dan pada situasi apa. Di lain kisah, mencoba manusiawi pada ‘kebaikan’ menurut saya adalah cara terbaik untuk tidak patah hati melihat sisi buruk orang yang kita kenal. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, bukan?

 

Orang-Orang Baik di Sekitar Kita

4 thoughts on “Orang-Orang Baik di Sekitar Kita

  • 18 September, 2017 at 1:25 PM
    Permalink

    Waah demi apa tulisan saya masuk dalam tulisan blogger sekelas kak Ifa

    Reply
    • 18 September, 2017 at 3:45 PM
      Permalink

      Demi traktiran es krim, bubur dan parkir 😀

      Reply
  • 22 September, 2017 at 12:57 AM
    Permalink

    Tanpa kita sadari, kebaikan yang kita tabur untuk orang lain nanti akan kita tuai lewat orang lain pula yang bahkan tidak kita kenal sama sekali.

    Reply
    • 22 September, 2017 at 2:10 PM
      Permalink

      betul banget kak 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *