Rapat Awal Tahun Sobat LemINA

 

Saya menjadi relawan di Sobat LemINA kurang lebih sudah lima tahun. Berawal dari ajakan teman, hingga akhirnya menetap dan merasa nyaman. Banyak yang datang dan pergi selama kurun waktu yang cukup lama ini. Beberapa berkeluarga, ada yang menetap di luar kota dan ada juga yang pergi tiba-tiba. Tidak apa, berkomunitas bagi saya selayaknya memilih rumah bagi pengembangan diri dan juga jiwa. Mungkin ada hal tidak berkenan tetapi yang terpenting adalah proses pembelajaran. Deuh, kenapa jadi serius begini +_+

Melihat sendiri komunitas Sobat LemINA berkembang adalah sebuah kesyukuran. Seperti beberapa waktu lalu ketika menghadiri rapat awal tahun yang dilaksanakan di Wisata Kebun Gowa pada tanggal 5-6 Januari 2019. Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan setelah pulang dari Selandia Baru. Kegiatan ini pula yang akhirnya membuat saya berujar dalam hati, “I am home”.

Sedang menjelaskan tentang salah satu program yang akan dilaksanakan tahun ini

Dilaksanakan selama dua hari di area wisata, rapat awal tahun ini menjadi sangat menyenangkan karena kami bisa sekaligus menikmati udara yang ‘sedikit’ segar di bawah rimbun pepohonan. Kegiatan ini menjadi terapi khusus bagi saya yang masih mengalami reverse culture shock dan masih teringat suasana indahnya kota Auckland hahaha.

Namanya rapat awal tahun, pastilah kami membicarakan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan selama satu tahun ke depan. Saya sangat bersemangat karena pada rapat evaluasi sebelumnya, teman-teman telah bersepakat untuk mengubah metode pelaksanaan kegiatan agar lebih efektif. Artinya, dalam satu tahun ini kami akan melaksanakan program-program dengan lebih baik dan kami (saya khususnya) siap menjadi pembelajar lagi.

Ada satu sesi di rapat awal tahun ini yang membuat saya berpikir cukup lama. Namanya adalah sesi mengenal diri. Saat itu kami diberikan selembar kertas kecil yang diisi dengan nama sendiri. Kertas ini kemudian digeser ke teman di samping kanan yang nantinya bertugas menulis kesan tentang orang yang namanya ada di atas kertas. Begitu seterusnya hingga kertas tersebut berakhir di teman yang berada di sisi kiri.

Menarik sekali membaca tulisan-tulisan yang ada di dalam kertas ini dan melihat diri sendiri dari mata orang lain. Saya misalnya, ada yang menulis saya sebagai pribadi yang ‘kadang menjengkelkan’ dan sepertinya memang benar. Kita tidak bisa menyenangkan semua orang, bukan? Hahaha. Lalu di beberapa baris berikutnya ada yang menulis, “cerdas tapi baperan”. Tulisan ini yang cukup menganggu pikiran. Jika kesan yang saya berikan adalah ‘baperan’ maka sepertinya saya memang harus berbenah agar bisa meluapkan emosi dengan cara yang lebih elegan. *kibas jilbab 😀

Well, pada akhirnya berkomunitas adalah memperkaya diri dengan pelajaran penting tentang hidup. Tidak selalu soal foto-foto ceria yang diunggah di media social setelah berkegiatan, tetapi ada lika-liku tantangan yang harus dilalui. Ada drama sebelum kegiatan, terkadang pula saling menyalahkan. Jangan salah, proses inilah yang akhirnya menjadi jalan pendewasaan bagi sebahagian orang. Kamu pilih jalan mana? Selamat berkomunitas, senang bisa kembali.

 

2 Comment

  1. rere says: Reply

    great post

  2. Ryan says: Reply

    Andalan

Leave a Reply