Tetangga Kota VS Tetangga Desa

Saya membuka kaca helm dan melempar senyum ke Ibu-ibu yang sedang bercengkrama di pinggir jalan dekat rumah. Hampir seperti itu setiap sore sepulang dari kerja. Meski hanya berjarak tembok rumah, waktu bertegur sapa dengan mereka hanya bisa dihitung jari. Tidak heran jika saya kurang update info di lingkungan tempat tinggal sekarang.

Saya ingat suatu sore di akhir pekan ketika saya memutuskan menghampiri ibu-ibu tetangga ini. Bermain dengan beberapa anak-anak dan sesekali berkomentar pada obrolan mereka. Hasilnya, saya jadi tahu kalau tetangga lorong sebelah yang sudah berumur ternyata mengadopsi anak kecil. Cerita tentang beberapa tetangga yang kecurian juga mewarnai obrolan kami sore itu. Hasilnya, saya pulang membawa sekantung kerupuk beras siap goreng dan nasihat untuk tidak membuka pintu rumah terlalu lebar karena rawannya pencurian bahkan di siang hari.

Sebagai perantau yang berasal dari desa kecil di pelosok kabupaten Enrekang, membandingan kehidupan pertetanggan di kota dan di desa memang terasa berbeda. Di desa, tetangga biasanya keluarga sendiri sehingga kedekatan emosional tentu sangat terasa. Bayangkan saja, rumah di depan rumah adalah milik sepupu dari Ibu, rumah sebelah kiri adalah kediaman anak dari sepupu Ibu, dan pemilik rumah sebelah kanan masih ada hubungan keluarga juga dengan Ibu. Hubungan pertetanggaan dan kekeluargaan ini membuat tidak ada gossip-gosip yang terlewat jika sedang di kampung.

Selain informasi yang tersebar dengan cepat, kehidupan pertetanggan di kampung juga sangat fleksibel. Saya ingat betul saat kecil dulu jika ada tetangga yang datang ke rumah dan meminjam peralatan dapur hingga bumbu dapur. Ada juga yang meminjam korek api, senter dan perkakas lainnya seperti palu atau gergaji. Saya waktu kecil juga sering kali disuruh Ibu untuk meminjam sesuatu di tetangga depan rumah. Dari semua perihal pinjam meminjam barang antar tetangga ini, yang paling berkesan adalah ketika saya diminta meminjam bumbu dapur tetapi tidak diberi karena saat itu hari sudah senja. Oleh tetangga saya diperintahkan kembali ke rumah dan membawa kayu bakar sebagai ganti barang yang dipinjam tersebut. Pamali, begitu katanya.

Ingatan-ingatan tentang pertetanggaan di kampung mungkin memang jauh berbeda dengan di kota. Masa kecil saya habiskan di kampung. Barulah ketika menginjak remaja saya melangkahkan kaki ke Makassar kemudian berdomisili di Gowa. Banyak memori yang saya rindukan ketika masih di kampung namun tidak juga membuat saya menyesal hidup di tempat sekarang.

Saya bersyukur hidup di lingkungan tempat tinggal sekarang dengan tetangga yang berlatar belakang pekerjaan dan daerah yang berbeda. Tetangga paling ramah mungkin adalah perempuan jawa yang pohon mangganya sudah menggapai-gapai atap rumah saya. Ia kerap disapa dengan ‘Mbak’ oleh warga sekitar. Ia juga yang beberapa kali memberikan kerupuk beras kepada saya. Beda lagi dengan tetangga etnis cina yang usianya sudah mulai sepuh. Ia cendrung pendiam namun tetap melempar senyum jika disapa.

Oh iya, tulisan ini bagian dari tantangan #15HariMenulis yang diadakan oleh beberapa blogger. Tema pertama adalah ‘Tetangga’, tema yang dekat tapi membuat saya harus memutar otak dan menggali-gali memori waktu kecil. Berkat tantangan ini saya juga tahu kalau bahasa lain dari tetangga adalah ‘Jiran’. Hahah, kemana saja kamu Ifa. Jadi istilah Negeri Jiran tidak hanya diberikan kepada Malaysia tetapi semua negeri-negeri yang bertetangga dengan kita, Indonesia. *kemudian melempar diri sendiri pakai kamus bahasa Indonesia*

Baca tulisan-tulisan tentang tetangga yang lain yuk !

1. http://whyopu.blogspot.co.id/2017/06/tetanggaku-nusantara.html
2. http://adlienerz.com/bersama-tetangga-membangun-mimpi-bertualang-sejak-kecil/
3. https://sajakantigalau.wordpress.com/2017/06/10/tetangga-jauh
4. https://cecein.wordpress.com/2017/06/10/tetangga-dan-kesalingan/
5. https://mujahidzulfadli.wordpress.com/2017/06/10/tetangga-paling-ramah/
6. https://helmiyaningsi.wordpress.com/2017/06/10/belajar-tak-hanya-di-sekolah/
7. http://www.acitrapratiwi.com/2017/06/tetanggaku-idolaku.html?m=1

 

 

Tetangga Kota VS Tetangga Desa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *